Derit kayu dari alat tenun gedogan memecah keheningan Pringgasela Selatan sejak awal pekan pertengahan September 2026. Di desa berhawa sejuk di Lombok Timur ini, Nune Dende kelas 8 MTs Sayang Ibu menjalani agenda Live In Step 2 selama enam hari penuh, sejak 7 hingga 12 September 2026. Mereka berpindah sementara dari ruang-ruang kelas di Dasan Geria menuju pangkuan rumah-rumah warga di Gubuk Lauk dan Gubuk Rempung.

Nune Dende kelas 8 MTs Sayang Ibu sebelum berangkat menuju Desa Pringgasela, Lombok Timur (Foto: PAMSI)


Bagi Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI), Live In Step 2 bukanlah sekadar acara tinggal bersama warga desa. Perjalanan ini dirancang sebagai ruang eksplorasi riset berbasis lapangan dan penguatan karakter sosial yang diintegrasikan langsung dengan indikator Sustainable Development Goals (SDGs). Kehadiran santri diawali dengan penyambutan ramah di Kantor Desa Pringgasela Selatan bersama jajaran petinggi desa dan warga lokal, sebelum para santri tersebar menginap bersama orang tua asuh mereka.

Beberapa hari, ritme kehidupan Nune Dende berdenyut bersama kesederhanaan warga. Dimulai dari ibadah harian dan shalat Subuh di masjid terdekat, membantu pekerjaan rumah tangga orang tua asuh, hingga mengajar Bahasa Inggris, Bahasa Arab, serta mengaji bagi anak-anak desa di TPQ Al-Ikhlas selepas Maghrib. Namun, kekuatan utama dari program ini terletak pada penyelaman mendalam para santri terhadap denyut ekonomi dan kerajinan lokal Pringgasela.


Di kelompok penenun setempat dan Sundawa Art Shop, para santri diajak memasuki laboratorium tekstil tradisional. Nune Dende tidak hanya menonton, tetapi mempraktikkan langsung teknik menenun kain dengan alat gedogan. Mereka mengamati rantai produksi tenun, mulai dari ekstraksi bahan alami untuk pewarna benang, proses pewarnaan, hingga strategi promosi dan distribusi industri kreatif lokal. Penyelaman ini menjadi sarana mengkaji SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan pewarna ramah lingkungan dan pelestarian warisan budaya Sasak.


Santri kelas 8 MTs Sayang Ibu belajar langsung tentang alat yang digunakan untuk menenun (Foto: PAMSI)

Eksplorasi tak berhenti di atas helai-helai benang. Di tengah terik siang, para santri bergeser menyusuri sentra pembuatan bata tanah merah dan sentra kerajinan kayu. Mereka menyaksikan dari dekat bagaimana adonan tanah diolah secara manual menjadi material bangunan yang kokoh. Pengalaman ini diperlengkap saat Nune Dende mengunjungi workshop Batik Sasambo Pringgasela untuk mengamati dan mempraktikkan seni membatik khas Nusa Tenggara Barat. Eksplorasi fisik dan industri kecil ini menyentuh aspek SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) sekaligus SDGs 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), membukakan mata santri tentang ketahanan ekonomi berbasis komunitas.


Nune Dende mencoba langsung membuat batu bata dan belajar dari ahlinya (Foto: PAMSI)


Aspek pemberdayaan perempuan dan keadilan sosial turut tercermin kuat selama Live In. Melalui perjumpaan langsung dengan para perempuan penenun di Pringgasela, para santri mengkaji SDGs 5 (Kesetaraan Gender). Di sini, aktivitas menenun bukan hanya simbol tradisi, melainkan pilar utama ketahanan ekonomi keluarga yang digerakkan oleh tangan-tangan tangguh para wanita desa.


Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan esensi mendalam dari petualangan belajar ini bagi pembentukan jiwa santri, "Perjalanan live in ini adalah sebuah petualangan belajar yang akan memberikan pengalaman baru bagi kalian. Menyaksikan dari dekat denyut kehidupan desa di Lombok Timur hendaknya memperkuat visi kita untuk senantiasa bersyukur, berterima kasih, dan menyadari betapa Allah Mahakuasa lagi Mahakaya. Setiap perjumpaan dengan warga adalah keberkahan. Bapak berpesan, tetaplah disiplin, jaga kesantunan tutur kata, dan rawatlah diri kalian dengan adab sebagai seorang santri."


Pada Sabtu, 12 September 2026, agenda ditutup dengan acara penarikan santri dari rumah orang tua asuh di Kantor Desa. Selama enam hari di Pringgasela Selatan, tidak ada sekat antara pelajaran sains, ekonomi, seni, maupun nilai-nilai keagamaan. Setiap remah pengalaman, guratan dalam catatan diary harian, dan keramahan orang tua asuh yang membekas di hati Nune Dende menjadi bukti bahwa proses belajar sejati selalu bermula dari kerendahan hati untuk membaca alam dan masyarakatnya.*



* Humas & Media PAMSI