MOPDB ITU ARTINYA MENYIAPKAN MASA DEPAN!

Pada Senin, 5 Juli 2021, hingga Kamis, 8 Juli 2021, santri baru Madrasah Aliyah Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) mengikuti kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB). Kegiatan berlokasi di dalam pondok. Santri MA yang tiba sehari sebelumnya itu terdiri dari sejumlah santri lama yang pernah mondok di PAMSI semasa tsanawiyah, ditambah dua santri baru yang, alhamdulillah, bisa beradaptasi dengan cepat dan baik.
 
Kegiatan MOPDB, bagi PAMSI, bukanlah sekadar kegiatan basa-basi menyambut santri baru. Ia juga bukan sekadar kegiatan ramah tamah untuk memperkenalkan seluruh fasilitas dan sumber daya manusia yang disediakan pondok. Kegiatan MOPDB, bagi PAMSI, adalah kegiatan “menyiapkan masa depan”. Santri baru MA yang mengikuti MOPDB diberikan training yang sistematis dan diharapkan materi-materi training itu memberi mereka insight tentang bagaimana mereka harus menghadapi dunia setelah mereka lulus dari PAMSI kelak.
 
Di hari pertama, setelah lari pagi, bersih diri dan sarapan, santri baru MA bergabung dengan santri baru Madrasah Tsanawiyah di aula Masjid Bait al-Hikam untuk mengikuti opening ceremony. Oleh Pimpinan Pesantrean Alam Sayang Ibu Bapak Dr. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., mereka diperkenalkan lagi pada para guru yang mengabdi di pondok dan disegarkan ulang pemahamannya tentang visi misi PAMSI, terutama ideologi “manusia khalifah”, yakni tugas dasar manusia di dunia adalah untuk merawat bumi dengan berbekal ilmu pengetahuan alam dan tradisi riset yang kuat. “Umat Islam harus bisa menjadi penyelamat bumi. Caranya, kalian harus terbiasa dengan riset dan penemuan,” dawuh Pimpinan
 
Setelah opening ceremony, santri baru MA menghadiri sesi orientasi tema besar pembelajaran khas MA PAMSI. Sesi ini bernama Open Mind SDG’s bersama Ust. Muji Juherwin, M.Sc. Santri baru diperkenalkan dengan ‘kiblat tematik’ seluruh mata pelajaran MA, yakni bahwa materi yang akan mereka terima serta project yang akan mereka kerjakan kelak dirumuskan dengan mengikuti SDG’s. Ust. Muji Juherwin, M.Sc. mengupas tuntas apa itu SDG’s, logika dalam memahami SDG’s, serta bagaimana mengintegrasikan SDG’s dalam materi dan project.
 
Di malam hari, setelah salat isya dan setelah secara bergilir santri baru unjuk diri di muka jama’ah dengan memberikan kultum, mereka berkumpul untuk sesi Kelas Menulis bersama AS Rosyid, MA. atau biasa disapa Bang Ical. Di sesi ini, Bang Ical memberi latihan singkat tentang perbedaan penulisan deskriptif dan penulisan naratif. Bang Ical juga menekankan pentingnya tradisi menulis bahkan sekadar untuk menggambarkan hal-hal yang sekilas remeh saja, seperti dompet atau uang; dari hal-hal yang remeh itu sesungguhnya kita bisa mendapatkan cara pandang baru yang segar dan kreatif.
 
Di hari kedua, santri baru MA mendapatkan serangkaian materi yang diambil dari adagium PAMSI, yaitu “think, discover, create.” Sesi pertama dan kedua, yakni untuk materi critical thinking dan materi critical discovering diisi oleh Bang Ical. Di dua sesi ini, materi selalu diselingi dengan diskusi-diskusi ringan namun dengan sudut pandang kritis yang tidak terduga. “Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara mandiri; artinya, kita tidak ketergantungan pada apa kata orang. Berpikir kritis juga berarti berani menegaskan posisi kita terhadap suatu ide, apakah kita akan mendukung suatu ide atau kita akan menolaknya. Berpikir kritis dimulai dari mengajukan pertanyaan mengapa.” Bang Ical menegaskan bahwa ilmu pengetahuan berkembang karena ada kritisisme. Penjelajahan manusia di bumi untuk melihat segala sesuatu, yang PAMSI menyebutnya discovering, tidak cukup bila hanya berbekal rasa ingin tahu. “Discovering itu harus berawal dari critical thinking,” imbuh Bang Ical.
Adapun di sesi selanjutnya, yakni critical innovation, yang diisi oleh Ust. Didit Sukmana, S.Pd. santri MA mendapatkan dasar-dasar filsafat alam dan bagaimana manusia sedari dulu mengembangkan peradabannya lewat penemuan-penemuan. “Manusia selalu mencari solusi atas segala permasalahan hidupnya,” ujar Ust. Didit Sukmana, S. Pd., Beliau memberi contoh bagaimana Pythagoras menemukan teorema yang membantu manusia mengatasi persoalan jarak, atau bagaimana peradaban Babylonia kuno menciptakan irigasi untuk mengatasi ketersediaan air.
 
Malam harinya, MOPDB MA menghadirkan Raden Khaerul Pratama, SE. Beliau CEO dan Co-Founder Start-Up Pengenbisa.com dan Maunginap.com untuk mendadar kewirausahaan santri baru MA, secara spesifik di bisnis start up. Siswa MA diajari bagaimana memulai bisnis dengan melihat target dan kebutuhan pasar. Belajar dengan bermain game membuat pelajaran terasa semakin menyenangkan. Lewat game itu, masing-masing kelompok diminta membuat ide bisnis dan mempresentasikannya. Raden Khaerul Pratama kemudian memberi masukan-masukan brilian untuk pengembangan masing-masing ide bisnis santri baru MA.
 
Di hari ketiga, santri baru MA dibimbing oleh Bunda Dr. Immy Suci Rohyani, M.Si, Direktur Pendidikan PAMSi, terkait talent mapping dan personal branding. Bunda Immy menekankan pentingnya personal branding dan bagaimana melakukannya sejak dini. Pun demikian dengan talent mapping dan kemampuan untuk menelaah kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa. Santri baru MA diminta mengisi form dan didorong untuk menentukan cita-cita sejak dini, dengan menimbang peluang, tantangan, potensi serta syarat yang harus dipenuhi untuk mencapainya.
 
Materi di atas sempat diselingi dengan latihan videografi di siang hari sebagai pengenalan kegiatan ekstrakurikuler videografi PAMSI, yang diampu oleh Ming Muslimin, S.Sn. Kemudian, di malam hari, materi dari Bunda Immy diteruskan oleh Bang Ical dalam sesi penyusunan vision board. Di sesi ini, santri baru MA belajar mengenali mana cita-cita yang realistis (strong goals) dan mana yang tidak (weak goals), sebelum mereka berusaha menyusun strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk mencapainya.
 
Irma Fitria Rahmi, salah seorang santri baru, menulis impiannya menjadi seorang psikolog di usia 23 tahun. Ia sangat yakin bisa mencapainya karena di usianya yang ke-17 ia bertekad lulus dari PAMSI dan menjadi mahasiswa fakultas psikologi selama enam tahun hingga meraih gelar master. Irma ingin menjadi seorang psikolog yang berjuang di ranah kesehatan mental. M. Nabil, santri lainnya, menulis impiannya untuk melanjutkan studi di luar negeri. “Saya yakin bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk itu,” tulisnya dengan percaya diri. Naura Fatika Wijdan menyatakan keinginannya untuk bergabung di organisasi internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan, semata karena ia sangat menyukai bahasa asing dan senang membangun relasi. Hafiz Saudi Putra menyeranai mimpinya sebagai dokter umum dan ia sudah tahu ia ingin pergi ke universitas yang mana. Ainayyah Alfatiha Putri ingin menjadi presenter dan penulis; dengan yakin ia berkata bahwa ia memiliki bakat dalam berkomunikasi dan pernah menulis hingga diterbitkan dalam sebuah ontologi.
 
Pada Kamis, yakni hari terakhir MOPDB, santri baru MA dilatih survival dan leadership oleh Kepala Sekolah MA, Ust. Yunani, S.Pd.i. Yang juga sekaligus penanggubg jawab program Survival dan pembina Pramuka di PAMSI. Mereka berjalan kaki menyusuri bukit dan kebun di berada belakang pondok. Pada kegiatan ini siswa MA dilatih bertahan hidup di alam bebas, membaca kompas dan sandi yang sudah dipersiapkan. Berbekal uang 15 ribu rupiah per kelompok, sepanjang jalan mereka harus membeli bahan makanan seefektif dan sekreatif mungkin untuk dimasak sendiri di titik tujuan. Suasana sangat menyenangkan. Selain kegiatan survival dan pembekalan materi leadership, Ust. Yunani mendorong siswa melakukan observasi kondisi lingkungan hidup dan masyarakat yang dilewati dalam rute kegiatan.
 
MOPDB meninggalkan kesan yang dalam bagi santri baru MA. Selain untuk menyiapkan masa depan, MOPDB juga membantu mereka beradaptasi dengan budaya belajar MA yang aktif, mandiri dan kolektif. Kita menantikan gebrakan-gebrakan baru di masa depan dari generasi baru ini. Mudah-mudahan Allah memberkati. Amin.
























 

Posting Komentar

0 Komentar