Dialog Perjumpaan (DQ #2)

(Mohon maaf kepada yang pemilik haksalin (copyright) atas gambar ini. Kami peroleh dari WA teman, tidak dijelaskan sumbernya)

Dialog 1
Kisah berikut digubah berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Muslim.[1] Nabi Muhammad, ‘alaihi s-sholaatu wa s-salaam, sedang duduk bersama malaikat Jibril dan beberapa sahabat. Tiba-tiba terdengar suara menggetarkan dari arah langit.
Jibril menoleh ke atas.
“Tahukah engkau, wahai Rasul yang mulia, suara apa ini?” tanya Jibril kepada Nabi.
Rasulullah tidak menjawab. Beliau hanya memandang Jibril.
“Sebuah pintu terbuka. Pintu Langit,” Jibril menjelaskan.
 “Apa yang istimewa?” Nabi belum memahami.
“Pintu ini tidak pernah terbuka sebelumnya. Kali ini ia terbuka untuk pertama kalinya.”
“Ada apa gerangan, wahai Rûhul Amîn?”
Belum sempat Jibril menjawab, sesosok malaikat lain muncul dari pintu itu.
“Malaikat ini tak pernah turun ke bumi sebelumnya. Ia hanya turun hari ini,” Jibril menjelaskan.
Assalamu’alaik. Dua cahaya suci datang untukmu, Rasul yang mulia,” kata malaikat itu.
Nabi terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya.
“Cahaya Suci ini tidak pernah diberikan kepada orang pun selain dirimu. Tidak pula kepada Nabi dan Rasul sebelummu.”
“Cahaya Suci apakah itu?”
“Al-Fatihah dan ayat-ayat terakhir al-Baqarah.”
Nabi terpaku. Pandangannya lurus ke depan. Sekujur tubunya berkeringat. Jiwa raganya bergemuruh, bergetar seperti langit itu.[]

Dialog 2
Kisah lain yang penuh gelora yang menggambarkan dialog yang terjadi ketika al-Fatihah dibaca, berdasarkan hadits qudsi riwayat Imam Muslim juga.[2]
“Allah berfirman: ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku secara seimbang, dan hamba-Ku akan dianugrahi apa saja yang ia minta.
“Ketika seorang hamba berkata: Segala puji bagi Allah, Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta,’ Allah menimpali: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’
Ketika dia berkata: ‘Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menyayangi sepenuhnya,’ Allah berucap: Hamba-Ku telah memuja-Ku.’
Ketika berkata: ‘Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban,’ Allah menimpali: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku, menyerahkan semua urusannya kepada-Ku
“Ketika hamba itu berkata: ‘Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini. Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan,’ Allah menimpali: ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa pun yang dimintanya.’
Ketika dia memohon: ‘Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan yang benar. Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat; bukan yang membuat-Mu murka, dan tidak pula jalan orang yang tersesat,’ Allah menimpali dengan kalimat yang sama: ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa pun yang dia minta.’”[]
***
Jika salat adalah sebuah momentum “perjumpaan,” saat dialog langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya, seperti apa kualitas perjumpaan yang pernah Anda alami sejauh ini? Apa yang Anda rasakan?[]

Je Abdullah




[1] S{oh}îh} Muslim, I/554, no. 806
[2] S{oh}îh} Muslim, I/296, no. 395.

Posting Komentar

0 Komentar