Outing Sains Kelas 10 Ke Kebun Kongok, Menatap Realita Gunung Sampah

Selasa pagi, 10 Februari 2026, udara di Lombok Barat masih menyisakan sisa embun saat 16 orang Nune Dende kelas 10 MA Sayang Ibu memulai sebuah perjalanan yang tidak biasa. Kali ini, tujuan mereka bukan laboratorium sekolah yang steril dan dingin, melainkan sebuah realitas yang sering dihindari oleh mata yakni Kebun Kongok di Banyumulek. Di sanalah, sisa-sisa konsumsi masyarakat Lombok Barat dan Kota Mataram bermuara dan membusuk.

Nune Dende kelas 10 MA Sayang Ibu mengunjungi TPA Kebun Kongok (Foto: PAMSI) 

Perjalanan ini terasa lebih menyenangkan karena para santri didampingi langsung oleh barisan ustadz lintas disiplin. Kehadiran para pengajar biologi, fisika, kimia, hingga ilmu sosial memastikan bahwa setiap aroma tak sedap dan fenomena yang ditemukan di lapangan dapat dibedah secara komprehensif. Di sini, sekat-sekat mata pelajaran luruh, berganti menjadi sebuah kesatuan ilmu yang hidup untuk membedah krisis iklim.

Di Kebun Kongok, para santri berdiri tepat di hadapan gunung sampah yang merupakan sebuah muara terakhir bagi benda-benda yang tak lagi dianggap berharga. Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed memberikan sebuah refleksi mendalam mengenai posisi santri di tengah tumpukan limbah tersebut. "Manusia diciptakan sebagai khalifah bukan untuk menjadi penguasa yang destruktif, melainkan sebagai penjaga keseimbangan bumi," ujarnya. Bagi beliau, kehadiran santri di Kebun Kongok adalah bagian dari latihan tanggung jawab tersebut. "Menjadi khalifah berarti memiliki kesadaran sains untuk menghentikan kerusakan yang kita buat sendiri."

Melalui observasi tajam dan wawancara di lapangan, Nune Dende menemukan fakta mengenai volume sampah yang terus menggunung. Mereka menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar tumpukan limbah, melainkan pabrik gas rumah kaca yang bekerja dalam sunyi.

Nune Dende mendapat penjelasan tentang pengelolaan sampah di TPA Kebun Kongok (Foto: PAMSI)

Berdasarkan analisis kimia dan biologi di lokasi, para santri mengidentifikasi bahwa timbulan sampah yang tertimbun memicu proses pembusukan aerobik dan anaerobik. Proses ini melepaskan berbagai gas berbahaya seperti Nitrogen Dioksida (NO2), Amonia (NH4), Metana (CH4), Metil (CH3), hingga Karbondioksida (CO2). Gas-gas inilah yang menjadi aktor utama di balik pemanasan global yang kini kian ekstrem.

Masalah utama yang ditemukan para santri adalah absennya pemilahan sampah sejak dari dapur rumah. Sampah yang datang ke Kebun Kongok tercampur aduk antara material organik dan anorganik. Kondisi ini menjadi hambatan besar bagi pengelola, meski teknologi pengolahan sudah tersedia, efektivitasnya terhambat karena sulitnya memisahkan material yang sudah membusuk dan menyatu di dalam gunungan tersebut. 

Teknologi secanggih apa pun di hilir, akan sulit bekerja jika perilaku membuang sampah di tingkat rumah tangga tidak diubah. Kondisi sampah yang tercampur menyebabkan emisi gas rumah kaca tetap berada pada level yang tinggi.

Namun, di tengah gunungan masalah itu, Nune Dende juga mempelajari upaya mitigasi yang tengah diupayakan. Salah satunya adalah pembuatan Solid Recovered Fuel (SRF) yang merupakan sebuah proses mengubah beban lingkungan menjadi bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik. Di sudut lain, mereka mengamati pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan sistem penanganan air lindi agar tidak meracuni tanah sekitar.

Selain TPA Kebun Kongok santri kelas 10 juga belajar di PAMANSAM (Foto: PAMSI)

Setelah menelusuri hilir di Kebun Kongok, rombongan bergerak menuju Laboratorium Hijau Paman Sam (PAMANSAM) di Narmada. Di sana, para ustadz pendamping mengajak santri melihat sisi edukatif pengolahan sampah secara mandiri. Di tempat ini, teknologi dipelajari bukan hanya sebagai teori, melainkan solusi praktis untuk mengurangi beban yang ditanggung Kebun Kongok setiap harinya.

Kunjungan yang berakhir di tengah terik siang itu meninggalkan kesan mendalam. Enam belas santri itu pulang tidak hanya membawa catatan tentang data emisi, tetapi sebuah kesadaran baru yang pahit, bahwa setiap plastik yang dibuang sembarangan berkontribusi pada rusaknya bumi. Outing sains ini menjadi bukti komitmen MA Sayang Ibu dalam melahirkan intelektual muda sebagai khalifah yang bertanggung jawab dan berani menatap realita kelam di hilir konsumsi, demi merajut kembali harapan bagi kelestarian alam.*


*Humas & Media PAMSI

Posting Komentar

0 Komentar