Angin laut yang membawa aroma garam menyambut kedatangan 18 santri kelas 12 MA Sayang Ibu saat kaki mereka menyentuh pasir putih Gili Asahan. Di pulau kecil yang tenang di ujung Lombok Barat itu, antara 11 hingga 15 Januari 2026, para santri yang berdiri di ambang kelulusan ini memulai sebuah ritus. Bertajuk Aliyah Goes to Community (AGTC), ini bukan sekadar kunjungan pelesir, melainkan ujian kemandirian tingkat akhir sebelum mereka dilepas menjadi warga dunia.
![]() |
| Nune Dende kelas 12 MA Sayang Ibu mengunjungi SD di Gili Asahan (Foto: PAMSI) |
Berbeda dengan program Live In Urban yang masih dalam dekapan guru, AGTC adalah panggung otonom. Ke-18 santri ini ditantang merancang seluruh rangkaian kegiatan dari hulu ke hilir. Tanpa mata guru yang mengawasi di lokasi, mereka harus berjibaku sendiri, mengelola fasilitas, mengatur logistik, hingga menyusun strategi untuk masuk ke jantung masyarakat melalui program yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Pimpinan Pesantren, Ustadz Jamaluddin Abdullah, memandang model mandiri ini sebagai simulasi krusial. "AGTC adalah tugas kecil dari mandat besar mereka sebagai khalifah fil ard," ujarnya. Bagi Bapak Pimpinan, Gili Asahan adalah laboratorium karakter. "Jika tanpa pengawasan guru mereka tetap tegak, itulah tanda jiwa kepemimpinan mereka telah hidup," tuturnya dengan nada mantap.
Di pulau ini, para santri memposisikan diri bukan sebagai tamu agung, melainkan bagian dari solusi. Fokus mereka menyentuh urat nadi kebutuhan warga. Dalam aspek intelektual, mereka mengajar bahasa dan mendampingi anak-anak pulau dalam program Diary Quran. Di sudut lain, kelas bela diri digelar sebagai sebuah upaya menanamkan kedisiplinan dan rasa percaya diri pada generasi muda Gili Asahan di tengah kepungan ombak.
![]() |
| Aliyah Goes To Community mempertemukan Nune Dende dengan masyarakat Gili Asahan (Foto: PAMSI) |
Persoalan sanitasi yang menjadi momok wilayah pesisir pun tak luput dari perhatian. Mengaplikasikan ilmu sains dari ruang kelas, para santri mempraktekkan pembuatan filtrasi air sederhana. Inovasi kecil ini menjadi jawaban konkret atas dahaga warga akan air bersih. Tak berhenti di sana, kepedulian spiritual mereka tunjukkan lewat aksi bersih-bersih masjid, memastikan pusat ibadah warga tetap nyaman dan asri.
AGTC tak mengenal jadwal kaku yang dipatok di atas kertas. Para santri dituntut luwes berbaur dengan ritme kehidupan nelayan yang dinamis. Inilah laboratorium sesungguhnya di luar dinding madrasah. Mereka belajar bahwa menjadi bermanfaat adalah tentang kesiapan fisik dan mental dalam kondisi apapun sebuah bekal yang mereka sebut sebagai persiapan menuju next life.
Lima hari di Gili Asahan menjelma menjadi ritual pendewasaan yang nyata. Integritas dan kapasitas kepemimpinan mereka benar-benar dipertaruhkan di bawah terik matahari pesisir. Di sana, mereka belajar mendengarkan keluh kesah nelayan dan memahami harapan orang tua pulau dengan empati yang tumbuh organik.
Saat perahu mulai menjauh meninggalkan dermaga, mereka pulang bukan hanya dengan kenangan tentang indahnya pantai. Ada kesadaran baru yang dibawa, bahwa menjadi seorang santri diukur dari keberaniannya mengambil tanggung jawab mandiri untuk menebarkan manfaat, dimanapun kaki mereka berpijak.








0 Komentar