CTL EXPERIENCE: BELAJAR DARI ORANG LAIN

Teaching is sharing

Sebagai pelajar di Madrasah Tsanawiyah Alam Sayang Ibu, kami dituntun untuk menjadi sosok yang insan kamil, sosok yang mampu menjadi khalifah mulai dari sekarang hingga seterusnya. Dengan begini MSI membuat sebuah program yang diperkirakan mampu melatih kemandirian dan kepeduliaan kepada sesama. Program Connect To Learn (CTL), program yang aplikasikan dengan magang. Selama satu pekan kami menjalankan program ini, terdapat beberapa opsi tempat untuk menjalankannya.

Sejak beberapa minggu sebelumnya, kami tidak sabaran untuk pembagian tempat magang. Beberapa kami menanyakannya kepada para guru. Rumah Yatim, dan Panti Werdha adalah opsi –opsi yang diberikan utama dan SLB merupakan tempat yang harus ditempati. Selama 4 hari kami menjalankan magang di tempat yang berbeda, dan 2 hari sisanya semua akan magang di SLB. Pada opsi SLB pun dibagi menjadi 3 juga, SLB Dharma Wanita, SLB Pembina, dan SLB A YPTN. Selama menunggu waktu pembagian tempat, semua perasaan tercampur menjadi satu antara takut, gelisah, penasaran, senang atau bahkan sedih.

Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu, 19 April 2018. Para siswa-siswi kelas 7 berkumpul di aula untuk menunggu pembacaan tempat oleh ms.El. Yap! Finally, aku ditempatkan pada tempat yang aku inginkan. Rumah Yatim. Bayangan-bayangan di Rumah Yatim telah terbesit pada pikiranku. Bersama dengan 9 temanku yang ditempatkan disana. ”Sangat menyenangkan” ucapku.

Hari pertama pun tiba, aku menuju Rumah Yatim dengan mood yang sangat baik. Disana kami disambut dengan ramah oleh sang pemilik yang biasa dipanggil dengan sebutan “abbi” . Para anak-anak disana juga begitu, menyambut dengan baik walaupun dalam perasaan malu mereka yang tak kunjung hilang dari awal hingga akhir hari itu. Arya, Aji’, Eland, Kak Ahmad, Kak Ulul, Dany, Jijo, Firman, Haris, Heri, itulah mereka semua. Jijo, Haris, dan Firman kurcaci-kuracaci lucu yang sangat dekat denganku. Jijo, si kecil yang sangat lucu. Haris, penghasut yang sangat pandai. Firman, si putra malu. Hari pertama kami dapat menjinakan mereka semua. Perkenalan dengan mereka semua, sedikit pembelajaran namun sangat berarti, murojaah Al-Qur’an bersama, tangisan-tangisan salah satu kuraci saat perkenalan, dan kenakalan si kecil Jijo.

Hari kedua kami lalui dengan berbalik 180 derajat dari hari pertama. Mereka kembali liar dan sangat nakal. Terutama para kurcaci-kurcaci itu. Haris yang selalu mengahsut Jijo agar tidak mendengarkan kami, dan Jijo yang selalu menuruti perkataan Haris. Firman, yang terus menangis yang tidak konsentrasi pada pembelajaran karena sedang kurang sehat. Bagi kami, hari ini sangat buruk dari sebelumnya. Kami sempat berpikir untuk cepat-cepat melalui magang di Rumah Yatim. Kami pulang kerumah dengan mood yang sangat buruk.



Kami terus memikirkan bagaimana untuk keesokan harinya, apakah kami akan terus-terus melakukan hal yang sama tanpa ada hal baru dalam kegiatan kami. Apakah adik-adik akan terus bertingkah membuat kami semakin badmood. Semua itu terbesit dalam pikiran kami. Hingga, kami pun memutuskan untuk membuat sebuah program pada hari terakhir yaitu program farming.

Untuk hari terakhir kami disana, kami sangat sedih akan berpisah dengan mereka semua. Kami sudah merancang program pada hari itu, program farming. Kami dibantu oleh semua anak-anak yang ada disana, terutama Heri, dia sangat sangat senang dengan program tersebut. Dan benar-benar yang terakhir, penutupan dan pelepasan telah disampaikan oleh Ummi, Abbi, kakak-kakak, dan teman-teman disana. Sangat sedih akan berpisah dengan mereka semua. Terutama para kurcaci-kurcaci itu. Sebelum pulang aku sempat berbincang dengan kurcaci yang paling kecil, Jijo.

“Jijo kakak pamit pulang ya? Besok kakak gak kesini lagi”
“Iyaa, pulang dah sanaa” jawabnya ketus.
“Ya sudah, dadah Jijo. Ehh, nanti Jijo gak kangen sama kakak?”
“Hmm… kangen sihnyaa”

Kini program CTL kami di Rumah Yatim telah selesai. Kemudian, kami melanjutkan program ini di SLB selama 2 hari. Aku mendapat tugas di SLB Dharma Wanita. Aku dating dengan perasaan yang sedikit kesal karena hampir saja aku terlambat. Sesampainya disana kami dipersilahkan masuk untuk mengikuti kegiatan imtaq yang rutin diadakan setiap hari Jum’at. Aku sangat perihatin melihat keadaan anak-anak disana. Mereka memiliki banyak kekurangan namun tetap semangat untuk bersekeloh. Tak ada pun keluhan yang terlontar dalam ucapan mereka. Bahkan mereka selalu tersenyum meski dalam keadaan apapun. Sungguh, bangga aku melihat mereka yang seperti itu. Selama aku disana aku sangat senang bisa bergabung dalam kegiatan mereka. Bergabung diantara kumpulan anak-anak tunarungu, autis,dan lain sebagainya. Bahkan aku sempat diajari menggunakan bahasa jari oleh mereka yang mengalami kelainan pada pendengaran dan berbicara (tunarungu).


Betapa senangnya aku melakukan kegiatan ini. Aku mendapat banyak pelajaran dari satu pekan aku menjalaninya. Aku berharap akan melakukan hal ini kembali.

“Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki saat ini karena, banyak saudara-saudara kita diluar sana yang sangat membutuhkannya. Dan jangannya menyerah akan mimpi-mimpimu. Teruslah bermimpi dan mengejarnya karena, dream without plan it just a wish”



Article by Jihan Hasna

Posting Komentar

0 Komentar