Lorong Khalifah




Nouval Ashari dan Lalu M Ihsan Rabbani,
finalis NYIA LIPPI 2017, Jakarta
HARI yang sangat panas. Seekor anjing terbakar kehausan. Lidahnya menjulur, nafasnya terengah. Ia mengelilingi sumur itu berkali-kali sambil menatap ke bawah. Ia membayangkan pada cermin lidahnya memanjang elastis dan menyentuh air sumur yang dalam itu. Tatapanya hampa, harapan hidupnya pusus. Ia menyadari lidahnya bukan karet dan permukaan sumur sangat dalam.
Seorang perempuan dari kejauhan memperhatikan anjing yang malang itu. Ia merasa sangat iba dan akhirnya bergegas turun mengambil air dengan sepatunya. Dengan pelan dan penuh empati ia menyodorkan sepatu berisi air itu. Anjing yang sangat kehausan itu menjilati air dengan rakus. Iapun selamat dari lubang kematian.
Dikabarkan, perempuan itu seorang yang berlumuran dosa. Ia tak lagi memiliki kehormatan. Tapi aksi penyelamatannya itu menyebabkan ampunan dan kasih sayang Allah mendatangi dan memenuhi hidupnya (Shahih al-Bukhori, IV/130 No. 3321). Di hari kemudian, dalam sebuah keterangan, perempuan itu pun diganjar surga. (Dalam riawayat lain, pendosa yang menyelamat anjing itu adalah laki-laki [Lihat, Shahih al-Bukhori, III/111, no. 2363; Shahih Muslim, IV/1761, no. 2244]).
Jika aksi penyelamatan  seekor anjing dapat menyebabkan ampunan dan kasih sayang Allah datang, bagaimana kalau seseorang menyelematkan hidup 500.000 manusia?
***
Di belahan bumi lain, ribuan tahun berselang, hari-hari dingin menusuk tulang. Kamp-kamp penampungan di perbatasan Jerman dipenuhi pengungsi Syiria yang terkoyak. Mereka mengigil kedinginan. Salah satu dari pengungsi itu adalah  seorang bocah tujuh tahun yang mengalami junctional epidermolyisi bullosa (JEB), semacam kelainan genetik. Penyakit ini menyebabkan kulitnya tak dapat berkembang. Lebih dari 80 persen tubuhnya tak berkulit. Daging-daging yang berwarna merah darah terlihat degang jelas.
Setiap orang memiliki LAMB3, gen yang memproduksi protein yang bertugas melekatkan lapisan kulit luar (epidermis) dengan lapisan kulit bagian dalam. Namun pada penderita JEB seperti bocah pengungsi itu, LAMB3 tidak bisa menghasilkan protein sehingga kulit sangat rapuh dan mudah melepuh. Tentu saja rasa sakit menyayat-nyayati sekujur tubuh. Penyakit yang sangat merusak ini “hampir saja membutuhnya,” tulis The Guardian.[1]
Michele De Luca, satu dari dari sangat sedikit ahli biologi sel punca dunia, diminta oleh rumah sakit Ruhr University Jerman menangani masalah ini. Perempuan yang mengajar di University of Medona Italia ini bersama timnya bertindak cepat. Kulit bocah itu diambil seukuran perangko untuk dijadikan sampel. Dengan sebuah rekayasa virus genetika gen LAMB3 bocah itu dapat dinormalkan kembali. Dari seukuran perangko kulit itu tumbuh menjadi 150 cm. Michele menempelkannya pada tubuh sang bocah seperti menjahit perca. Dua tahun kemudian 80 persen tubuh sang bocah Syria yang menjadi pengungsi bersama orang tuanya tahun 2013 itu sudah tertutupi kulit luar baru yang kuat dan elastis. Dia pun selamat dari kematian dan dapat hidup normal.
Prof Cédric Blanpain, seorang ilmuan stem cell dari Free University of Brussels, menggambarkan capaian Michele ini sebagai contoh paling impresif dalam pemanfaatan stem cell pada manusia sejauh ini. Tidak banyak penyakit yang mendapatkan keuntungan dari sains stem cell,” katanya. “Ini adalah contoh yang sangat indah tentang sesuatu yang tidak terpikirkan sebelum studi ini. Mengganti dan memperbeiki gen keseluruhan kulit pasian adalah sesuatu yang sangat mengagumkan. Di tempat lain, Claire Higgins, seorang dosen bioengineering di Imperial College London, menggambarkan percobaan ini sebagai Sebuah pencapaian besar dan sangat luar biasa.
Keberhasilan Michele memberi harapan besar kepada sekitar 500.000 penderitan JEB di seluruh dunia. Lebih dari itu, capaian ini juga memberi harapan kesembuhan bagi penyakit-penyakit lain yang sampai saat ini belum bisa tertangani.
Jika penyelamatan seekor anjing saja dapat mendatangkan ampunan dan kasih sayang Allah, bagaimana jika tindakan penyelamatan atas ribuan bahkan jutaan manusia?
Junctional epidermolyisi bullosa (JEB)    
MSI ingin mengajak siswanya berpikir tentang bagaimana dapat berkontribusi bersama-sama ilmuan di berbagai belahan dunia untuk mengatasi berbagai jenis penyakit yang diderita manusia, atau membuat berbagai peralatan atau teknologi yang memberi kemudahan dan kemanfaatan bagi umat manusia. Pada saatnya nanti, hrapannya, mereka akan menjadi pemberi solusi—bukan pencipta masalah—bagi bukan hanya umat Islam, tapi juga manusia di seluruh dunia.
Rekayasa genetika, misalnya, masih menyisakan banyak masalah. Ada penyalahgunaan, ada laku serakah yang menelikung di simpang jalan pengetahuan, lalu bukan manfaat yang datang, tapi mudarat. Tapi, mereka sebagai pelajar tidak bisa hanya mengeluhkan keadaan. Mereka pada saatnya harus ikut menjadi pemain aktif: saintis yang sadar akan tugas utama manusia sebagai kekhalifahan yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi dunia, bagi manusia dan alam semesta. Jika kesadaran ini tumbuh, maka sains dan teknologi ke depan tidak lagi diracuni oleh nafsu kapitalisme yang tak peduli keselematan dan kabaikan semesta.
Maka bersiaplah mulai sekarang!

Dan gunakanlah apa saja yang kamu miliki (termasuk keahlian) di jalan Allah. Jangan jerumuskan dirimu dengan tanganmu sendiri dalam kehancuran. Berbuat baiklah, sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
       QS al-Baqarah/2: 195


Jamaludin Abdullah,
Pengasuh Madrasah Sayang Ibu
Lombok NTB




[1] Detailnya bisa lihat: https://www.theguardian.com/science/2017/nov/08/scientists-grow-replacement-skin-for-boy-suffering-devastating-genetic-disorder. Juga diliput Kompas, Rabu 15 November 2017, h. 14. Liputan khusus kasus ini dimuat di jurnal Nature, November 2017, tapi dapat diakses dengan berbayar.


Posting Komentar

0 Komentar