MASIH ADA SERATUS TAHUN LAGI, AYAH, BUNDA

MASIH ADA SERATUS TAHUN LAGI, AYAH, BUNDA  
 
 Tujuh tahun sudah Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) berselang, Ayah, Bunda. Tujuh tahun yang serasa seratus tahun. Tiap detik sangat berharga. Pesantren ini telah mencicip rupa-rupa kisah dalam perjuangannya menjadi barometer pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Dua pendiri, Bapak Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed. dan Bunda Dr. Hj. Immy Suci Rohyani, M.Si. tetap setia pada cita-cita pendidikan yang telah dibayangkannya jauh sebelum PAMSI berdiri. Para asatiz, yang silih berganti mengisi perjuangan sejak Pesantren ini hanya berupa sebidang tanah dengan satu unit bangunan sederhana, berusaha memahami, menerjemahkan, dan merawat cita-cita tersebut. 
    
    Tidak ada yang mudah, Ayah, Bunda. Tapi tidak pula semua ketidakmudahan itu menjadi alasan bagi keluarga besar pendidik PAMSI untuk merebahkan diri di peraduan rasa malas, memilih untuk menyerah.

    Sesaat setelah panitia persiapan milad PAMSI ke-7 disusun, beberapa asatiz tercenung di ruang guru. Baru kemarin rasanya mereka melepas angkatan pertama PAMSI menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keberhasilan mereka untuk menempuh studi sesuai minat bakat yang PAMSI telah asah selama enam tahun membuat dada mereka penuh oleh rasa haru. Rasanya belum selesai haru itu menguap, tahu-tahu milad ke-7 akan segera tiba. Mereka pun bercanda: tentang mereka yang telah mengajar di pesantren ini sejak masih gadis atau jejaka, tentang gaji pertama dan untuk camilan apa gaji itu dibelanjakan, tentang angkatan pertama dan tantangan yang mereka hadapi, tentang guru-guru yang telah pamit, tentang peningnya kepala karena harus menemukan model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan dan cita-cita besar PAMSI, tentang buah rambutan dan manggis yang mereka tunggu-tunggu musimnya, tentang rapat desain kurikulum di rumah pimpinan yang hingga larut malam, tentang salah ucap dan laku saat mengajar yang disesali sekaligus disyukuri sebagai suatu pengalaman, tentang terobosan yang tidak bekerja sebagaimana mestinya, tentang terobosan yang ternyata berhasil raya-raya, tentang tuntutan inovasi yang semakin banyak seiring bertambahnya jumlah santri, tentang perselisihan di antara anak-anak didik yang menggemaskan, tentang kisah lainnya, dan kisah-kisah lainnya.


    Tidak sebentar dan tidak mudah. Namun membahagiakan. Tujuh tahun yang silih berganti namun tak terasa.


    Perhelatan Milad ke-7 PAMSI dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2021, Ayah, Bunda, dua hari lebih awal dari tanggal milad yang sesungguhnya, yakni tanggal 18 Oktober. Milad ke-7 PAMSI mengambil tema “Tu7uh Pintu Semesta”. Pada tema ini, PAMSI menaruh harapan akan lahirnya generasi baru muslim yang menggenggam kunci-kunci pengetahuan. Mereka yang menguasai ilmu, sanggup menembus langit, demikian Allah memberi kesan dalam surat al-Rahman: 33. Angka tujuh adalah angka yang sakral dalam Islam. Ia adalah lambang sesuatu yang tidak terbatas. Semesta adalah lautan keajaiban yang tidak bertepi; hamparan tanda-tanda kekuasaan Allah. “Tujuh pintu” adalah lambang bagi cara-cara yang sangat mungkin ditempuh oleh manusia untuk menyelidiki hakikat semesta raya.

    PAMSI, Ayah Bunda, telah menaruh perhatian pada tujuan-tujuan di atas. Anak-anak umat Islam harus ditumbuhkan kecerdasannya, rasa ingin tahunya pada semesta, pada kebenaran, pada manfaat yang terkandung di bumi, pada bagaimana manfaat itu diraih dan diperuntukkan bagi orang banyak. PAMSI ingin anak-anak umat Islam terbiasa mengamati, mencatat, mengemukakan pengalaman dan pemikirannya, bertukar gagasan secara sehat, punya inisiatif untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan tahu cara-cara yang dapat ditempuh. PAMSI meyakini tujuan dan kualitas semacam itu merupakan perintah Allah yang setara kepentingannya dengan salat. Salat membuat hati tersambung dengan kehendak Allah; penelitian membuat akal pikiran tersambung dengan keajaiban penciptaan Allah. Maka semuanya berujung satu: Allah. Lillaah, Rabb semesta raya.

    Maka, Ayah Bunda, perhelatan Milad PAMSI ke-7 beberapa waktu lalu sesungguhnya hanyalah perayaan manis yang bukan merupakan ujung perjuangan. Masih ada seratus tahun lagi, Ayah, Bunda, usia pesantren ini. Masih ada seratus inovasi lagi. Masih ada seratus jerih payah lagi. Masih ada seratus pencapaian lagi. Masih ada seratus kebanggaan lagi. Tentu saja seratus bukanlah batas, tapi pertanda banyak, bahkan tak terhingga.
*(bang ical)

 

Sambutan dari Bapak Dr. H. Jamaluddin Abdullah 

 


Sambutan dari Bapak Komite Pesantren Alam sayang ibu
 







  


Persiapan Santri PAMSI sebelum memulai Jalan Sehat

 








 Moment Acara Jalan Sehat mengelilingi Area sekitar PAMSI















Moment Pembagian DoorPrize dan Istirahat setelah Jalan Sehat
 
 



























































 Moment Keseruan Santri dan Guru dalam Memeriahkan Lomba Milad











Moment Latihan Penampilan dan Pembangunan Panggung Milad
 
 

















Moment keseruan Lomba Tumpeng
 


























Moment Kedatangan dan Sambutan Bapak Bupati dan Tamu Undangan
















Moment Keseruan Acara dan Penampilan Santri PAMSI


Posting Komentar

0 Komentar