Lorong-lorong Panti Werdha dan ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi arena ajar yang baru. Untuk sepekan penuh, siswa Kelas 7 MTs Sayang Ibu dilepaskan dari rutinitas pesantren. Mereka tidak mencari passion karir, tetapi menempuh Magang Empati, disebar berkelompok di lokasi-lokasi yang menuntut kesabaran dan nurani.
![]() |
| Nune Iqbal ketika Magang Empati di Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mandalika (Foto: PAMSI) |
Ini adalah kurikulum wajib yang keras, sengaja dirancang untuk memecah keakuan remaja. Di luar gerbang madrasah, mereka harus belajar memahami bahasa isyarat di SLB atau mendengar cerita masa lalu yang panjang dan melankolis dari para lansia di Panti Werdha. Raut wajah para santri terlihat tegang pada hari pertama, tetapi juga dipenuhi rasa ingin tahu yang besar.
Di Panti Werdha, tugas mereka melampaui observasi. Nune Dende dituntut berinteraksi langsung dengan kehidupan yang berbeda, jauh dari gawai dan teman sebaya. Mereka membantu menyuapi, mendampingi berjalan, dan menjadi pendengar setia bagi kisah-kisah yang mungkin tidak lagi didengar oleh keluarga sang lansia. Ini adalah pelajaran tentang penghormatan tanpa syarat.
Sementara di SLB, mereka mencoba menjangkau dunia yang berbeda melalui sentuhan dan pandangan mata. Mereka belajar bahwa komunikasi tidak selalu butuh kata-kata. Magang Empati ini memaksa mereka memahami kesulitan fisik dan mental yang dihadapi orang lain, sebuah transfer pengetahuan dari teori ke hati.
![]() |
| Nune Azka saat Magang Empati di SLB 1 Mataram (Foto: PAMSI) |
Tujuan program ini tak lain adalah untuk menumbuhkan kepedulian, dan mengajarkan empati sebagai modal dasar mereka sebagai manusia dan bekal mereka sebagai khalifah fil ard. Inilah bukti bahwa Pesantren Alam menempatkan rasa sebagai fondasi ilmu, yang hanya bisa didapatkan dari interaksi nyata.
Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah M.Ed, menekankan fungsi program ini. Ia berkata, “Target-target pendidikan akan sulit tercapai jika kita hanya bertahan di dalam kelas saja.” Beliau menegaskan bahwa anak-anak harus melihat langsung tantangan hidup, “agar mereka menjadi lebih kaya secara pengetahuan dan rasa.” Program ini adalah jawaban atas tuntutan pendidikan yang holistik.
Kegiatan yang berlangsung selama sepekan penuh ini melibatkan pengawasan ketat. Guru pembimbing mendampingi setiap kelompok, memastikan santri tidak hanya hadir secara fisik, tetapi benar-benar melebur dalam suasana. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi membantu membersihkan, menyanyi bersama, dan berbagi waktu dengan tulus.
![]() |
| Dende Raya mewawancarai salah seorang kakek di Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mandalika (Foto: PAMSI) |
Setelah sepekan penuh berada di lingkungan yang menantang emosi dan fisik, santri kembali ke pesantren bukan hanya dengan catatan di logbook. Mereka membawa pulang pengalaman batin yang dalam, sebuah modal kemanusiaan yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari buku pelajaran manapun, menegaskan bahwa sekolah terbaik adalah kehidupan itu sendiri.
Magang Empati ini adalah suntikan realitas bagi siswa kelas 7. Program ini membuktikan bahwa untuk mendidik generasi yang tangguh dan peduli, mereka harus dikenalkan pada kerentanan hidup orang lain, menciptakan jembatan antara teori kebajikan yang dipelajari di madrasah dengan praktik kasih sayang di lapangan.








0 Komentar