Pengalaman kerja menjadi kurikulum wajib di MA Sayang Ibu. Lima belas hari penuh, terhitung sejak 27 Oktober hingga 8 November 2025, menjadi penentu bagi 15 santri Kelas 11 MA Sayang Ibu. Santri-santri ini dilepaskan dari bangku kelas untuk mengikuti Magang Minat Bakat. Nune Dende ditempatkan di 16 lokasi berbeda, seluruhnya disesuaikan dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Setiap anak mendapatkan pengalaman yang berbeda selama periode magang ini.
![]() |
| Nune Daniel Izza Isthofani latihan membuat kopi selama Magang Minat Bakat di InSPIRASI Coffee (Foto: PAMSI) |
Ini adalah magang kedua mereka selama di jenjang Aliyah, setelah magang pertama pada Kelas 10 semester 2. Penyebaran Nune Dende ini bukan dilakukan secara acak. Tempat mereka magang dipertimbangkan secara matang berdasarkan hasil dari Talents Mapping.
Hasil pemetaan ini dilakukan guna mengetahui potensi bakat dan kekuatan santri dalam bidang tertentu. Santri pun tersebar di berbagai sektor yang keras, mulai dari dapur profesional di dunia kuliner, sibuknya layanan di perhotelan, hingga dinamisnya dunia penyiaran dan beratnya tanggung jawab di sektor pendidikan.
![]() |
| Nune Nazri Surya Ilham ikut menemani siswa MI Sayang Ibu berenang pada Magang Minat Bakat (Foto: PAMSI) |
Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah M.Ed, menekankan fungsi program ini. Ia berkata, “Target-target pendidikan akan sulit tercapai jika kita hanya bertahan di dalam kelas saja. Anak-anak wajib melihat langsung apa yang mereka pelajari, agar mereka menjadi lebih kaya secara pengetahuan dan rasa.”
Kegiatan ini secara serius ditujukan untuk memperkenalkan lingkungan kerja yang sesungguhnya kepada Nune Dende Kelas 11 MA Sayang Ibu. Harapannya, Nune Dende bisa menentukan jurusan yang sesuai dengan kemampuan mereka di bangku perkuliahan nanti, sebuah orientasi masa depan yang konkret.
![]() |
| Dende Raeesa Adilah Dharma saat Magang Minat Bakat di Jaleela (Foto: PAMSI) |
Kegiatan yang berlangsung selama dua pekan penuh ini melibatkan pengawasan ketat. Para guru pembimbing mengantar Nune Dende ke tempat magang mereka. Seluruh proses magang ini melalui pertimbangan dan pengawasan langsung dari coach, guru BK, kesiswaan, dan direktur pendidikan.
“Setiap anak memiliki keunikan dan tingkat kecerdasan yang berbeda, serta bidang minat yang tidak sama,” tutur Bunda Immy, Direktur Pendidikan. Ia menegaskan, “Oleh karena itu, tujuan inti pesantren adalah memastikan setiap anak didampingi hingga mereka mampu meraih potensi terbaiknya.”
MA Sayang Ibu terus berupaya memaksimalkan program magang melalui kerjasama dengan berbagai perusahaan. Hingga saat ini, MA Sayang Ibu memiliki 50 mitra yang tersebar di seluruh Pulau Lombok yang siap menjadi wadah mengembangkan skill bagi Nune Dende.








0 Komentar