Alumni Back To School, Sepekan Menanam Budi di Sekolah Dasar

Jalanan menuju gerbang sekolah dasar itu barangkali belum banyak berubah, namun langkah kaki yang menapakinya kini terasa lebih mantap. Antara 12 hingga 17 Januari 2026, para santri kelas 3 Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sayang Ibu memulai sebuah langkah balik. Melalui program Alumni Back to School (ABTS), setiap santri berangkat secara personal, mengetuk kembali pintu sekolah asal tempat mereka dulu pertama kali mengenal aksara. 

Dende Fira melaksanakan program ABTS di SDN 44 Ampenan (Foto: PAMSI)

ABTS lahir dari kesadaran sederhana, bahwa lulus dari bangku sekolah dasar bukanlah titik akhir sebuah relasi. Alih-alih melupakan wajah guru yang dulu membimbing mereka, para Nune Dende ini secara mandiri mendatangi kembali ruang guru yang lama tak mereka singgahi. Ini adalah siasat untuk merajut kembali komunikasi yang sempat terputus oleh jarak, sekaligus pembuktian adab santri Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) terhadap sejarah pendidikan mereka sendiri. 

Kepulangan ini bukan tentang seremoni jabat tangan atau sekadar nostalgia di kantin sekolah. Di dalam tas mereka, terselip bekal pengetahuan yang telah diasah bertahun-tahun di Tsanawiyah. ABTS menjadi panggung bagi setiap santri untuk menyalurkan apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran mendalam yang mereka serap di pesantren kini dialirkan kembali ke bangku-bangku kayu, tempat di mana rasa ingin tahu mereka dulu pertama kali disemaikan. 

Nune Azka dan Danish bersama Dende Syifa dan Aifaa melaksanakn program ABTS di SDIT Anak Sholeh 2 Mataram (Foto: PAMSI)

Direktur Pendidikan PAMSI, Bunda Immy Suci Rohyani, menegaskan bahwa kehadiran para santri ini sama sekali bukan untuk mengambil alih tugas pendidik profesional di sana. "Program ABTS ini sejatinya digelar untuk melatih mental anak-anak kita," ujar Bunda Immy. Menurutnya, ini bukan soal mengejar target kurikulum atau menggantikan peran guru di kelas, melainkan soal keberanian setiap individu untuk belajar mengkomunikasikan gagasan di depan publik. 

Berdiri di depan kelas nyatanya bukan perkara enteng bagi remaja kelas 9. Di hadapan adik-adik kelas, mereka dipaksa mengelola kegugupan, mengatur intonasi, hingga menjaga wibawa saat berbicara. Pengalaman ini menjadi laboratorium mental yang mahal, sebuah fragmen pelajaran tentang komunikasi yang tak mungkin didapatkan hanya dengan duduk diam di belakang meja kelas mereka sendiri. 

Nune Fathan di SDN 2 Utan ketika melaksanakn program ABTS (Foto: PAMSI)

Tentu saja, keberanian itu tidak jatuh dari langit. Sebelum dilepas ke sekolah masing-masing, para santri telah melewati fase pembekalan ketat dari para ustadz di pesantren. Mereka menyusun rencana presentasi dan menyiapkan materi kreatif yang disesuaikan dengan minat masing-masing. Hasilnya, sambutan dari sekolah-sekolah asal pun hangat. Para guru lama menatap mantan murid mereka dengan binar bangga, menyaksikan transformasi bocah-bocah yang dulu kecil kini telah tumbuh menjadi pribadi yang berdaya. 

Sepekan kepulangan itu terasa berlalu begitu cepat. Para Nune Dende kembali ke pesantren membawa perspektif baru tentang arti berbagi dan menghargai asal-usul. Program ABTS telah menanamkan satu keyakinan kuat, bahwa ilmu yang paling hidup adalah ilmu yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan. Sebuah perjalanan yang dilakukan setiap individu, tepat di titik di mana jejak langkah pendidikan mereka pertama kali bermula. 

Nune Dani melaksanakn program ABTS di MIS Alhasaniyah NW Jenggik (Foto: PAMSI)


Posting Komentar

0 Komentar