Lantai Student Center yang biasanya riuh oleh celoteh Nune Dende mendadak berubah rupa. Sejak 5 hingga 10 Januari 2026, suasana di sana tampak tegang namun terukur. Tak ada lagi tawa santri. Di bawah sorot lampu putih yang temaram, barisan ustadz dan ustadzah dari jenjang MI hingga MA Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) duduk melingkar. Di atas meja, rancangan pembelajaran bersaing dengan cangkir-cangkir kopi yang mulai mendingin.
| Ustadz Jamal memimpin Rapat Kerja Semester Genap 2025/2026 (Foto: PAMSI) |
Ini bukan sekadar pertemuan rutin awal semester. Rapat kerja (Raker) kali ini menjadi ritual krusial bagi para pengajar untuk memastikan setiap materi tidak sekadar menjadi tumpukan kertas. Di sana, Pimpinan Pesantren Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed dan Direktur Pendidikan Bunda Dr. Hj. Immy Suci Rohyani, M. Si turun langsung, mengawal setiap jengkal sinkronisasi kurikulum agar mendarat tepat di benak santri.
Membuka pertemuan, Ustadz Jamal melempar pemantik filosofis yang dalam. Ia merujuk pada pemikiran Peter Gould dalam The Heart of Design. "Islam itu seperti air murni yang jernih. Kemanapun ia mengalir, ia memantulkan warna dasar yang dilewatinya," ujarnya pelan, sebuah analogi tentang fleksibilitas ilmu yang harus tetap suci namun adaptif.
Pesan itu sangat jelas, kurikulum PAMSI harus mampu menyatu dengan kearifan lokal tanpa kehilangan akarnya. Ustadz Jamal tak ingin pendidikan hanya menjadi tumpukan kognisi yang kering. Sembari mengutip Karen Armstrong dalam The Lost Art of Scripture, ia mengingatkan para guru akan bahaya dominasi otak kiri yang kaku. "Jangan sampai kita kehilangan makna spiritual dan seni dalam memahami ayat-ayat Tuhan," tegasnya di tengah keheningan ruangan.
Diskusi kemudian beralih ke agenda yang paling menguras energi yaitu sinkronisasi mata pelajaran. Di PAMSI, ilmu tak boleh disekat secara kaku. Para ustadz dipaksa mencari benang merah, bagaimana matematika bisa berdenyut dengan nilai tauhid, atau bagaimana biologi berkelindan dengan materi fiqih. Targetnya jelas, menghindarkan santri dari cara berpikir yang terkotak-kotak.
| Asatidz PAMSI mengikuti Rapat Kerja Semester Genap 2025/2026 (Foto: PAMSI) |
Proyek integrasi menjadi menu utama yang memeras otak. Para pengajar dituntut merumuskan satu proyek besar yang menggabungkan logika sains dengan etika sosial. Tak ada celah untuk ketidakpastian. Setiap jam yang dilewati santri dibedah hingga detail terkecil, mulai dari output hingga kegiatan harian guru. Ketelitian ini adalah bentuk tanggung jawab moral mereka atas amanah orang tua yang menitipkan anak-anaknya di sana.
Menjelang akhir pertemuan, Bunda Immy Suci Rohyani memberikan pesan penutup yang sarat empati. Bagi sang Direktur, draf di atas kertas hanya akan menjadi benda mati jika tidak dieksekusi dengan hati. "Jangan pernah meremehkan langkah kecil untuk santri kita," tuturnya dengan nada menenangkan. "Seringkali, bimbingan tulus seorang ustadz justru menjadi titik balik besar bagi masa depan mereka."
Saat raker resmi ditutup pada 10 Januari, rencana pembelajaran di meja telah menjelma panduan operasional yang kokoh. Para pengajar meninggalkan ruangan dengan wajah lelah namun langkah yang lebih pasti. Dengan visi menjauhkan pendidikan dari logika kaku, mereka bersiap menyambut semester genap, membawa Nune Dende masuk ke dalam petualangan intelektual yang lebih kaya makna.





0 Komentar