Membongkar Tabu Raker: CaraAsatidz Sayang Ibu Menguji "Kesaktian" Visi Pesantren

 Suasana Rapat Kerja (Raker) di Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) tidak seperti pertemuan birokrasi pendidikan pada umumnya. Tidak ada pemaparan monolog yang menjemukan dari balik meja pimpinan. Sebaliknya, ruang rapat mendadak riuh oleh silat lidah dan debat argumentasi yang sengit antara guru, pengasuh, hingga jajaran manajemen.

Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., sengaja membalik meja rapat. Ia memaksa seluruh tenaga pendidik untuk tidak duduk manis mengangguk-angguk setuju, melainkan menguliti dan mengkritik habis gagasan dasar serta visi-misi lembaga tempat mereka mengabdi.

Ustadz Dr. Jamaluddin Abdullah, M.Ed. saat memimpin jalannya Rapat Kerja (Raker) bersama jajaran pendidik Pesantren Alam Sayang Ibu. (Foto: PAMSI)

Inspirasi format rapat yang tidak biasa ini diadopsi dari ajang debat santri yang digagas oleh para pengajar beberapa pekan sebelumnya. Dalam forum tersebut, peserta Raker dipecah secara organik menjadi empat kubu yakni, kelompok Pro yang membela filosofi pesantren, kelompok Kontra yang bertindak sebagai oposisi untuk mencari celah kelemahan, kelompok Pengamat independen, serta jajaran Pimpinan sebagai pemantau.

"Saya sangat butuh kritikan," tegas Pimpinan Pesantren di hadapan para ustadz dan ustadzah. Beliau menekankan bahwa dialektika dan kritik murni dari sudut pandang internal sangat krusial untuk menguji kekuatan konsep pendidikan sebelum dituangkan secara utuh dalam bentuk buku panduan pesantren.

Pria yang juga berlatar belakang penulis novel ini mengenang proses kreatifnya di masa lalu, saat sengaja mengundang mahasiswa untuk menguliti naskah bukunya demi menemukan celah yang perlu diperbaiki. Pendekatan serupa kini diterapkan pada tata kelola filosofi pendidikan PAMSI: Beribadah sebagai Khalifah melalui Tiga Pilar, Berzikir, Berpikir, dan Berkarya.

Suasana Rapat Kerja (Raker) Pesantren Alam Sayang Ibu dengan mengadopsi format debat terbuka bagi para pendidik. (Foto: PAMSI) 

Perdebatan mengenai integrasi Islam dan kesadaran saintifik sebetulnya bukan barang baru dalam sejarah pemikiran Islam, mulai dari era Al-Afghani hingga pendirian UIN di Indonesia. Namun bagi PAMSI, perdebatan epistemologis ini tidak boleh mandek di ranah menara gading perguruan tinggi. Kesadaran saintifik dan ketajaman berpikir justru harus ditanamkan sejak jenjang madrasah.

Kubu Kontra dalam arena rapat melontarkan kritik pedas terkait potensi ketidakseimbangan implementasi di lapangan. Praktik di masyarakat sering kali menunjukkan dominasi satu aspek, seperti zikir yang pasif tanpa diimbangi oleh rasionalitas berpikir dan karya nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial. Sebaliknya, kubu Pro menegaskan bahwa sejak tingkat MTs, santri PAMSI telah dibiasakan melakukan riset, menguasai perangkat digital, dan melahirkan karya ilmiah sebagai manifestasi dari integrasi zikir dan pikir tersebut.

"Riset dan kemampuan analisis itu modal abad ke-21. Santri kita melatih critical thinking tidak sekadar di atas kertas, tetapi lewat karya nyata," selutuh salah satu peserta Raker dari kubu Pro saat mempertahankan argumennya.

Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., memberikan arahan sekaligus memantik sikap kritis jajaran pengajar dan manajemen dalam agenda Rapat Kerja (Raker) lembaga. (Foto: PAMSI)

Tak berhenti pada penguatan nalar kritis dan perdebatan filosofis, forum Raker juga memaparkan berbagai inovasi media pembelajaran masa depan. Salah satu produk kreatif yang diperkenalkan adalah pengembangan gim edukasi berbasis Al-Qur'an bertajuk Echoes of Quran. Media ini dirancang menggunakan mekanika kartu interaktif dan simulasi kasus (case study) untuk memantik tradisi membaca (qira'ah), tadabur, serta diskusi kritis di kalangan santri.

Melalui tradisi perdebatan yang terbuka dan inklusif ini, PAMSI ingin menegaskan bahwa pesantren bukanlah ruang tertutup yang steril dari kritik. Dengan membenturkan gagasan, menyeimbangkan tradisi zikir dan daya kritis pikir, serta menghadirkan inovasi media modern, Pesantren Alam Sayang Ibu sedang meretas jalan untuk mencetak generasi santri yang tidak hanya teguh secara spiritual, tetapi juga tangguh dan rasional dalam merespons tantangan zaman.*



*Humas & Media PAMSI


Posting Komentar

0 Komentar