Menambat Cita di Pangkuan Alam: Saat Santri Sayang Ibu Menjejak Awal Menjadi Manusia Khalifah

 Deretan tenda dan pelepah hijau Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) menjadi saksi bisu dimulainya sebuah fase transformasi baru. Sepanjang 20 hingga 25 Juli 2026, atmosfer pesantren dipenuhi binar wajah penasaran sekaligus antusiasme tinggi. Nune Dende kelas 7 MTs dan kelas 10 MA Sayang Ibu secara resmi memulai langkah awal mereka, menautkan takdir dan impian sebagai bagian dari keluarga besar PAMSI.


​Masa Orientasi Pesantren dan Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun ini hadir jauh dari kesan perpeloncoan usang. Selama sepekan penuh, agenda ini dirancang sebagai ruang pembekalan holistik yang menyeluruh untuk menuntun navigasi belajar santri selama bertahun-tahun ke depan. 


Nune Kelas 7 MTs Sayang Ibu memperhatikan pemateri saat MOPDB 2026 (Foto: PAMSI)


Mereka tidak hanya diajak mengenali fisik lingkungan pondok, tetapi juga diajak menyelami kedalaman filosofi pesantren, membedah arah kurikulum, serta menginternalisasi nilai-nilai utama Manusia Khalifah sebagai pijakan dasar melangkah.

Peta masa depan mulai digoreskan sejak hari-hari pertama. Melalui sesi pembuatan Vision Board, Nune Dende diajak memetakan potensi diri, mengenali keunikan watak, dan merumuskan jangkauan cita-cita secara visual. 


Lembar-lembar impian tersebut dikunci dengan pelatihan personal branding, membangun rasa percaya diri, serta mengasah keterampilan komunikasi yang santun namun tegas, yang menjadi sebuah bekal penting agar karakter santri tidak mudah tergerus zaman.


Nune Dende belajar teknik keselamatan air bersama Polairud di Pantai Cemare (Foto: PAMSI)


​Belajar di pesantren alam berarti menjadikan semesta sebagai laboratorium terbuka. Para santri diajak menengadah ke langit dan menatap luasnya samudra melalui sesi observasi laut, sains kelautan, hingga pengamatan astronomi. Pembelajaran kontekstual ini dihadirkan untuk memantik rasa takjub atas keagungan ciptaan Sang Pencipta. Tak berhenti pada teori, PAMSI menggandeng BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), dan Polairud untuk membekali santri dengan simulasi mitigasi bencana serta teknik keselamatan di air (water rescue) secara langsung di lapangan.

​Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan pentingnya keterlibatan orang tua serta peran penguasaan sains dan alam semesta dalam pendidikan santri. 


Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed. menyampaikan sambutan mengenai pentingnya kolaborasi orang tua dan penguasaan sains dalam pendidikan santri. (Foto: PAMSI)


​"Kepercayaan (trust) dari Ayah Bunda adalah pondasi utama yang kami apresiasi. Sebagaimana iman, trust inilah yang memungkinkan kami para guru mendidik Nune Dende secara optimal melalui kerja sama dan dialog, dengan memegang teguh nilai truth (kebenaran), honesty (kejujuran), dan sincerity (keikhlasan), tutur Penulis Buku Diary Qur’an tersebut. 

Beliau melanjutkan, bahwasanya peradaban, ekonomi, dan sains modern hari ini tidak bisa lepas dari penguasaan ilmu tentang langit, astronomi, dirgantara, dan teknologi seperti satelit hingga energi matahari. Sayangnya, umat Islam masih tertinggal dalam sains dan teknologi karena sering kali hanya berfokus pada sebagian kecil ayat ibadah mahdhah. Padahal, mayoritas ayat Al-Qur'an mengajak kita membaca dan meriset ayat-ayat kauniyah di alam semesta. 


​”Sebagaimana pandangan Syekh Al-Sya'rawi, belajar sains di PAMSI memiliki dua sayap utama, pertama, menuju Wahdaniyah untuk mengagumi keesaan dan kekuasaan Allah melalui fenomena alam. Kedua, membangun Al-Hadarah (peradaban) guna melahirkan teknologi yang membawa kemanfaatan nyata bagi umat. Melalui penguatan riset dan pembelajaran alam, inilah wujud nyata kita membumikan Al-Qur'an," lanjutnya. 


​Puncak pekan orientasi bermuara pada prosesi Closing Ceremony yang hangat dan sarat emosi. Di bawah rindangnya pepohonan pesantren, Ayah dan Bunda para santri hadir duduk berdampingan untuk menyaksikan langsung perubahan sikap dan kesiapan buah hati mereka. Isak haru dan peluk hangat mewarnai momen pelepasan orientasi tersebut menandai kesiapan mutlak Nune Dende untuk bertumbuh, menuntut ilmu, dan berproses bersama alam di Pesantren Alam Sayang Ibu.*








*Humas & Media PAMSI

Posting Komentar

0 Komentar