Meretas Arah Baru Pendidikan: Saat Raker Sayang Ibu Bedah Ruh dan Kultur Riset

 Ruang Kelas Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) mendadak penuh sesak. Sejak pagi, jajaran pimpinan, kepala madrasah dari tingkat MI, MTs, hingga MA, serta belasan dewan guru dan pengasuh riayah duduk melingkar. Rapat Kerja (Raker) Semester Ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 hari itu dibuka bukan dengan angka-angka capaian administratif yang dingin, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang ruh dan fondasi utama lembaga.

Di hadapan seluruh civitas akademika, Direktur Pendidikan PAMSI, Bunda Dr. Hj. Immy Suci Rohyani, M.Si., membuka paparan dengan menguliti pendekatan kurikulum yang menjadi identitas pesantren. Di bawah pengawasannya, PAMSI tidak ingin sekadar menjadi lembaga pendidikan formal yang mengekor pada ritme hafalan. Nilai-nilai utama seperti islami, profesional, unggul, dan berwawasan lingkungan, ditegaskan kembali bukan sebagai selogan pajangan, melainkan kompas harian.

Direktur Pendidikan PAMSI, Bunda Dr. Hj. Immy Suci Rohyani, M.Si. menyampaikan paparan mengenai pendekatan kurikulum dan penguatan kultur riset saat Rapat Kerja Semester Ganjil. (Foto: PAMSI)

Satu aspek yang paling gencar ditekankan dalam Raker tersebut adalah penguatan kultur riset dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill) sejak dini. Di PAMSI, riset diharamkan hanya menjadi tradisi gertak sambal di akhir semester.

"Kultur riset itu artinya kita jangan terbiasa membagikan atau memutuskan sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya. Anak-anak dan guru diajak untuk selalu berbasis data dan analisis," ujar Bunda Immy di hadapan forum. Budaya riset dan keterampilan berpikir ini dipadukan dengan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) yang dimaknai secara luas sebagai resiliensi atau jiwa pantang menyerah seorang pejuang, sebagaimana keteladanan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Tak hanya merumuskan karakter dan tujuh pilar kepemimpinan santri, Raker juga menggarisbawahi prinsip inklusivitas dan adab kelembagaan. Ketika merespons dinamika sosial serta kedatangan berbagai tokoh publik dari latar belakang yang beragam, PAMSI memegang teguh filosofi kemuliaan memuliakan tamu tanpa kehilangan arah. Rumah pendidikan ini dirancang terbuka untuk mendengarkan, namun tetap kokoh memegang prinsip.

Suasana Rapat Kerja Pesantren Alam Sayang Ibu saat Direktur Pendidikan, Bunda Dr. Hj. Immy Suci Rohyani, M.Si., memberikan arahan di hadapan jajaran pimpinan, kepala madrasah, dan dewan guru. (Foto: PAMSI)


Menjelang penutupan sesi, Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., memberikan penyegaran berharga mengenai pentingnya memaknai setiap proses dan tantangan hidup secara positif. Berbekal rekam jejak panjang di dunia pendidikan dan kementerian, beliau mengingatkan para pendidik agar tidak terjebak dalam rutinitas yang kehilangan jiwa.

"Apapun yang kita hadapi, jika kita tidak memberi dia makna, maka ia hanya akan menjadi rutinitas yang kosong," tutur Pimpinan Pesantren. Beliau mencontohkan bagaimana tekanan dan situasi yang tidak ideal di masa lalu justru menjadi pemantik lahirnya inovasi-inovasi besar pesantren, seperti penyusunan program Diary Qur'an yang kini menjadi salah satu mahakarya literasi santri.

Melalui konsolidasi Raker Semester Ganjil 2026/2027 ini, Pesantren Alam Sayang Ibu menegaskan kembali posisinya, bukan sekadar tempat menuntut ilmu keagamaan secara teknis, melainkan sebuah laboratorium kehidupan yang terus mentransformasi guru dan santri untuk berpikir berbasis data, bertekun dalam riset, serta memiliki daya tahan mental yang tangguh di tengah pusaran perubahan zaman.*


*Humas & Media PAMSI


Posting Komentar

0 Komentar