Suara temaram angin di Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) bertukar riuh oleh aksen Australia yang khas pada Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam kemasan Language Month, suasana belajar Nune Dende tidak lagi berkutat pada buku tata bahasa atau hafalan kosakata di dalam kelas. Hari itu, panggung diafiliasikan langsung untuk menguji keberanian dan kelancaran bertutur bersama seorang penutur asli (native speaker), Alisha Woods.
Kedatangan Aleesha, mahasiswi asal Perth, Australia Barat yang telah dua bulan belakangan menetap di Indonesia untuk mempelajari bahasa lokal itu menjadi pemantik ruang diskusi yang hangat dan cair. Bagi Nune Dende, perjumpaan ini bukan sekadar sesi mendengarkan presentasi, melainkan sebuah laboratorium bahasa hidup tempat keberanian mengemukakan pendapat dan adab berkomunikasi diuji secara terbuka.
| Aleesha tamu asal Perth, Australia, berinteraksi dan mengamati lingkungan bersama para santri dalam agenda Language Month di Pesantren Alam Sayang Ibu. (Foto: PAMSI) |
Di hadapan para santri, Aleesha membuka selubung cerita tentang tanah kelahirannya, Australia Barat, sebuah negara bagian yang begitu luas hingga membutuhkan waktu 26 jam berkendara nonstop dari ujung utara di Broome hingga ujung selatan di Esperance. Dengan gaya bahasa yang jenaka, ia membagikan beragam fenomena menarik, mulai dari tren kaktus kreatif di pusat kota Perth yang viral di media sosial, gumpalan sejarah sekolah dasarnya di Badgingarra yang hanya dihuni 26 murid, hingga dinamika studinya di Murdoch University, kampus yang berdiri riung di tengah vegetasi semak belukar alami.
| Aleesha Woods, berbagi pengalaman dan latar belakang studinya kepada para santri di Student Center (Foto: PAMSI) |
Suasana kian interaktif saat Aleesha membandingkan bentang alam kedua wilayah. Sambil berseloroh memuji keindahan pantai-pantai di Lombok, ia dengan bangga memamerkan pesona pantai berpasir putih Esperance serta keajaiban danau garam berwarna merah muda (pink lake) di Australia Barat. Tak lupa, ia mengisahkan keanekaragaman budaya Australia yang multikultural, tempat beragam tradisi dan hidangan dunia melebur menjadi satu.
Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan pentingnya membangun rasa percaya diri dan mimpi besar santri dalam momentum ini. Beliau menyampaikan, "Kalian harus percaya diri dengan apa yang kalian miliki (you have to believe in yourself). Sekolah ini siap membantu jika kalian benar-benar ingin pergi belajar ke Australia, Eropa, atau Amerika. Jika kalian bersungguh-sungguh dan belajar bahasa Inggris dengan giat, program English Month ini justru bertujuan membina mimpi kalian agar suatu saat bisa melangkah ke luar negeri. Saya sangat bahagia kita kedatangan tamu dari Australia hari ini."
Sesi yang berlangsung penuh antusiasme tersebut dipungkasi dengan ruang tanya jawab interaktif. Nune Dende melayangkan beragam pertanyaan, mulai dari seluk-beluk kehidupan pelajar di Australia hingga tips beradaptasi dengan bahasa baru yang dilayani Alisha dengan gelak tawa dan jawaban lugas. Hari itu, jarak ribuan mil antara Perth dan Dasan Geria seolah terkikis, menyisakan benih keberanian baru di dada para santri untuk terus menjelajahi ilmu hingga ke ujung dunia.*
*Humas & Media PAMSI





0 Komentar