Outing MI Alam Sayang Ibu, Membaca Lombok dari Kedalaman Ruarasa

 Decak kagum dan binar mata penasaran Nune Dende MI Alam Sayang Ibu kelas 1 hingga 5 memecah kegelapan ruang immersif Ruarasa. Hari ini, suasana belajar tidak dilingkungi dinding kelas konvensional maupun sudut kebun sekolah. Melalui agenda outing khusus, para siswa cilik ini diajak melintasi ruang dan waktu di Ruarasa, sebuah ruang edukasi digital indoor berteknologi tinggi yang memadukan kebudayaan Sasak, sejarah lokal, dan efek visual multidimensi.


Bagi MI Alam Sayang Ibu, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan hiburan. Outing ke Ruarasa dirancang sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (immersive learning) untuk mengasah kepekaan sejarah, apresiasi budaya, dan rasa syukur para santri cilik. Lewat tata cahaya proyektor canggih dan simulasi 4 dimensi, Ruarasa menjelma menjadi laboratorium digital tempat Nune Dende menyaksikan kembali jejak peradaban Pulau Lombok dari jarak yang begitu dekat.


Sejak melangkah masuk, anak-anak disuguhi pengalaman sensorik yang mengagumkan. Dinding-dinding ruangan seolah bernapas, menampilkan visualisasi megah yang membawa mereka merasakan atmosfer alam Lombok tanpa perlu berdiri di bawah terik matahari. Salah satu puncak simulasi yang paling memukau adalah rekonstruksi detik-detik meletusnya Gunung Samalas pada abad ke-13. Gemuruh suara, dentuman visual, dan efek getaran 4D membuat anak-anak terpaku serta memahami betapa dahsyatnya peristiwa sejarah yang pernah membentuk bentang alam tanah kelahirannya.


Nune Dende antusias menonton sejarah Gunung Samalas di Ruarasa (Foto: PAMSI)


Tak hanya disuguhi canggihnya teknologi sinematik, Ruarasa juga menjadi arena interaksi budaya yang kaya nilai. Di sudut lain, Nune Dende diajak mengenal dan mempraktikkan langsung permainan alat musik tradisional Lombok. Sentuhan pada instrumen lokal serta dentang irama yang tercipta membangun rasa bangga terhadap warisan leluhur. Mereka belajar melestarikan identitas Sasak di tengah gempuran modernisasi.


Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan pentingnya memadukan teknologi dan penanaman nilai budaya bagi tumbuh kembang Nune Dende, "Menjadikan sains dan teknologi modern sebagai jembatan memahami sejarah adalah cara efektif menanamkan tauhid dan adab. Di Ruarasa, Nune Dende menyaksikan dahsyatnya peristiwa alam seperti letusan Samalas sekaligus meresapi kearifan budaya lokal Lombok. Inilah wujud nyata melatih Manusia Khalifah yang berwawasan luas, berilmu canggih, namun tetap berakar kokoh pada nilai-nilai keislaman dan kebajikan lokal."


Nune Dende menulis di lembar kerja usai mengelilingi Ruarasa (Foto: PAMSI)

Saat agenda outing ditutup dengan sesi refleksi bersama para coach, binar antusiasme masih terpancar kuat di wajah para santri. Nune Dende pulang membawa lebih dari sekadar cerita petualangan digital, mereka membawa pulang kebanggaan atas kekayaan budaya Lombok dan pemahaman baru bahwa teknologi, bila digunakan dengan bijak, bisa menjadi sarana terbaik untuk membaca tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.*




*Humas & Media PAMSI


Posting Komentar

0 Komentar