LIVE IN STEP 4 - Bayan: Merawat Bumi, Mengeratkan Tradisi

 Suara dentang gamelan kuno dan aroma wangian dedaunan yang membalut kawasan punden Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, menjadi latar dinamika belajar yang berbeda bagi santri kelas 10 Madrasah Aliyah (MA) Sayang Ibu. Sejak 24 Agustus hingga 4 September 2026, sebanyak 19 santri melakoni agenda Live In Level 4. Mereka meninggalkan kenyamanan ruang kelas untuk bermukim, menyatu, dan meneliti di tengah-tengah tatanan masyarakat adat Bayan.

Kedatangan Nune Dende kelas 10 MA Sayang Ibu di Kantor Desa Bayan (Foto: PAMSI) 


Bukan sekadar agenda tinggal di pedesaan, Live In Level 4 dirancang sebagai pengganti pembelajaran konseptual menjadi eksplorasi etnografis dan riset saintifik aplikatif berbasis isu Sustainable Development Goals (SDGs). Mengusung tema "Merawat Bumi, Menguatkan Tradisi: Perubahan Iklim dan Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Bayan", Nune Dende disebar ke dalam tujuh rumah orang tua asuh yang melingkupi Dusun Karang Salah, Bayan Timur, dan Bayan Barat.


Saban hari, ritme kehidupan para santri menyatu penuh dengan keseharian warga. Sebelum fajar menyingsing, aktivitas dimulai dengan olahraga menyusuri jalanan desa, dilanjutkan membantu orang tua asuh bertani, memetik hasil bumi, menenun, hingga berjualan. Selepas Maghrib, Nune Dende berbagi ilmu dengan mengajar anak-anak di TPQ. Di sela-sela rutinitas domestik tersebut, tugas riset etnografi terus berjalan, mengamati kearifan lumbung padi tradisional (sambilan), meneliti tradisi memanen menggunakan anai-anai, hingga mendokumentasikan tata aturan hutan adat (awig-awig) yang menjadi benteng mitigasi perubahan iklim.


Kehadiran para santri juga bertepatan dengan momentum sakral persiapan perayaan Maulid Adat Bayan di kompleks Masjid Bayan Kuno. Dalam balutan busana adat, santri membaur bersama Karang Taruna dan para tokoh adat, mempelajari pembagian peran gender dalam ritual, hingga menyerap kearifan lokal lewat sesi Ngaji Adat bersama Penghulu Beleq Bayan.


Nune Dende menyimak penjelasan Mamiq Gedarip dalam sesi ngaji adat untuk mendalami kearifan lokal masyarakat Desa Bayan (Foto: PAMSI)

Di balik riuhnya rentetan kegiatan tersebut, cara pandang santri terhadap realitas pun perlahan bertransformasi. Di Pesantren Alam Sayang Ibu, sains, sosiologi, dan hukum lingkungan tidak pernah ditaruh di rak yang terpisah dari lembaran-lembaran fikih atau nilai ketauhidan. Menghitung valuasi ekonomi air di hutan adat atau mengukur efisiensi sistem irigasi gravitasi dipahami oleh Nune Dende sebagai bagian dari pembacaan atas ayat-ayat Sang Pencipta yang terhampar di alam semesta, beriringan dengan bait-bait doa yang dilantunkan usai salat.


Harmoni ini tercermin jelas ketika para santri meneliti ketahanan pangan masyarakat adat Bayan. Rumusan indikator SDGs tentang pengetasan kemiskinan dan pengelolaan energi bersih teranyam secara alami dengan konsep adab, rasa syukur, dan nilai kepedulian sosial yang diajarkan di surau. Bagi santri, tidak ada batas tegas antara "menjadi saintis" dan "menjadi hamba", mengkaji efisiensi lumbung padi sambilan untuk mencegah panceklik adalah bentuk ibadah yang nyata, sebagaimana halnya mereka menyimak wejangan moral dari para tetua adat saat sesi Ngaji Adat.


Melalui pendekatan yang meleburkan ilmu pengetahuan dan nilai keilahan ini, seluruh aktivitas fisik, analisis saintifik, serta pengabdian sosial dipandang sebagai satu kesatuan suluk belajar yang utuh. Setiap helai benih lokal yang diamati, setiap lembar jurnal etnografi yang ditulis, dan setiap remah bantuan yang diulurkan di dapur orang tua asuh adalah ruang pendidikan karakter yang tak terpisahkan dari pencarian ridho Illahi.


Nune Dende mengumpulkan data penelitian lewat wawancara masyarakat sekitar (Foto: PAMSI)

Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan bahwa pengalaman membaur ini adalah ikhtiar pembentukan karakter kepemimpinan Islam yang membumi, "Lewat program Live In ini, Nune Dende tidak hanya belajar mengasah nalar ilmiah lewat riset etnografi dan SDGs, tetapi juga menempa empati, kerendahan hati, serta adab hidup bermasyarakat. Menjaga ketahanan pangan dan kelestarian alam adalah bagian dari amanah khalifah fil ardh. Kita ingin melahirkan generasi pemikir yang ilmunya berakar pada kitab suci, namun derap langkahnya hadir memberikan solusi nyata di tengah warga."


Sebagai luaran (output) akademis, seluruh rangkaian observasi, wawancara mendalam, dan catatan jurnal harian santri akan dikompilasikan ke dalam draf buku antologi laporan etnografis populer yang membedah isu kedaulatan pangan dan konservasi lingkungan berbasis tradisi Bayan.


Malam sebelum kepulangan, dalam sesi refleksi harian yang berpindah dari dusun ke dusun, binar keteguhan terpancar dari wajah-wajah muda peneliti PAMSI. Di bawah naungan atap ilalang dan hembusan angin Kaki Gunung Rinjani, Nune Dende pulang tidak hanya membawa draf riset dan nilai pelajaran, melainkan membawa jalinan ikatan keluarga baru serta pemahaman mendalam tentang cara merawat bumi dan tradisi.*



*Humas & Media PAMSI


Posting Komentar

0 Komentar