Aroma asin air laut, riuk deru mesin perahu nelayan, serta hiruk-pikuk lelang ikan memecah keheningan pesisir Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur. Selama lima hari, dari 28 September hingga 2 Oktober 2026, sebanyak 35 santri kelas IX MTs Sayang Ibu melakoni agenda Live-In Step 3. Mereka meninggalkan sejenak suasana rindang Pesantren Alam Sayang Ibu untuk bermukim, beradaptasi, dan meneliti di tengah-tengah miniatur Indonesia pesisir yang dihuni oleh ragam etnis, mulai dari Suku Bajo, Bugis, Sasak, hingga Muncar.
Bukan sekadar agenda wisata pantai, Live-In Level 3 dirancang sebagai substitusi pembelajaran konseptual di kelas menjadi penelitian etnografi dan lapangan berbasis indikator Sustainable Development Goals (SDGs). Mengangkat fokus pada SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), serta SDGs 14 (Ekosistem Laut), Nune Dende disebar ke rumah-rumah warga lokal yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, pedagang ikan, dan buruh pesisir.
Saban hari, ritme hidup para santri menyatu penuh dengan keseharian keluarga asuh. Memulai hari sebelum fajar dengan shalat Tahajud dan Subuh berjamaah, para santri sigap membantu tugas domestik seperti merapikan rumah, membantu ibu asuh menyiapkan dagangan, atau mendampingi bapak asuh mengecek jaring dan perahu. Selepas Maghrib, Nune Dende berbagi peran sosial dengan mengajar mengaji Al-Qur'an dan Iqro di TPQ serta mushola pemukiman warga.
Dinamika riset ilmiah berjalan beriringan dalam setiap langkah santri. Di Dusun Pijot, Nune Dende mengamati proses kristalisasi garam tradisional dan mewawancarai para petani tambak. Di Kampung Tengah, mereka menyambangi POKLAHSAR Sinar Timur untuk membedah inovasi pengolahan hasil laut menjadi dodol rumput laut, serta meninjau pengembangan budidaya udang oleh BUMDes. Tak kalah menantang, para peneliti muda ini juga menelusuri riuk Pasar Ikan Tanjung Luar dan galangan kapal di Dusun Toroh Selatan guna mengidentifikasi keanekaragaman hasil laut, termasuk tata niaga ikan hiu, sekaligus memetakan persoalan sanitasi dan ketersediaan air bersih di kawasan pesisir.
Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Ustadz Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan pentingnya pembelajaran langsung di tengah masyarakat ini sebagai pembentukan karakter Manusia Khalifah, "Di Tanjung Luar, Nune Dende melakoni sebuah petualangan belajar yang sangat berharga. Kalian pergi dan menyaksikan sendiri kehidupan di sebuah desa pesisir Lombok Timur. Di sana, teruslah merawat visi untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih, meresapi betapa Allah Maha Kuasa lagi Maha Kaya. Bertemu dengan beragam manusia di sepanjang jalan adalah salah satu wujud keberkahan-Nya. Tetaplah menjaga kedisiplinan, bertutur kata yang santun, serta menjaga diri dengan adab terbaik dimanapun kalian berada."
Sebagai bentuk luaran (output) akademis, setiap santri mencatat dinamika harian dan temuan lapangan mereka dalam bentuk logbook dan diari naratif yang nantinya dihimpun menjadi sebuah buku laporan etnografi angkatan.
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, acara penarikan resmi di Kantor Desa Tanjung Luar mengakhiri perjalanan lima hari yang sarat makna. Membawa catatan riset, oleh-oleh garam, dan salam perpisahan yang hangat dari para orang tua asuh, Nune Dende kelas IX MTs Sayang Ibu melangkah pulang ke Pejeruk. Mereka tidak hanya membawa data ilmiah tentang ekosistem laut, tetapi juga menyerap pelajaran berharga tentang ketahanan hidup, toleransi keberagaman, dan rasa syukur yang mendalam.*
*Humas & Media PAMSI
.jpeg)
.jpeg)






0 Komentar