Disyncret: Gardnerian Minds


http://humanmind.ac.uk/events-2/events/theory-of-mind-the-social-mind/
Oleh Jamaludin Abdullah

Pengantar
Meskipun dengan suasana galau, mari kita sama-sama rayakan Hari Pendidikan Nasional ini. Galau? Ya, lah. Bagaimana tidak? Tahun kemarin kita dapat kabar menciutkan lagi: hasil test PISA anak-anak kita masih masuk zone degradasi (baca: merah) dan tidak sampai 0,5% yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, sementara lebih dari 75% sangat rendah. Tahun ini UNDP lebih menyetak, orang-orang kita yang suka baca hanya 0,001 persen! .......... Jadi, wajar kan kalau galau?
Maka ada baiknya kita rayakan Hardiknas ini dengan merefleksi Five Minds-nya Om Gardner. Semoga saja kemampuan belajar anak-anak kita menaik karena kita sadar pentingnya kemampuan berpikir dan, untuk anak-anak, kita berusaha menciptakan suasana belajar yang memicu kemampuan berpikir. Semoga mereka naik tingkat di tahun-tahun yang akan datang. Amin.
Pendahuluan
Gagasan Multiple Intelligencess (1983)[1] telah secara revolusioner mengubah cara dunia pendidikan bekerja. Namun nampaknya Howard Gardner, sang pengagas, belum puas: ia menawarkan Five Minds For the Future (2007)[2] yang ia sebut sebagai cara seharusnya seseorang berpikir. Jika dalam Multiple Gardner berbicara tentang potensi beragam manusia dalam kecerdasan, maka dalam Five Minds ia berbicara tentang bagaimana memanfaatkan kecerdasan tersebut secara maksimal untuk kesusksesan masa depan. Gardner mengajukan lima cara berpikir atau pikiran (five minds) untuk memanfaatkan kecerdasan dan mengelola dunia yang banjir informasi. Kelima jenis cara berpikir ini, meskipun beberapa ahli melihatnya lebih sebagai hasil olah pikir dan intuisi – tidak dibangun atas dasar hasil riset yang kuat,[3] bagi Gardner merupakan cara berpikir yang mengglobal yang dibutuhkan setiap orang untuk bisa eksis baik di masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Gagasan Five Minds sejalan dengan Educational Taxonomy Bloom. Bedanya, yang pertama lebih bersifat hirarkis dan yang kedua efigenetis. Dalam cara pandang lain, Five Minds bisa diperlakukan sebagai gagasan besar dan Educational Taxonomy sebagai salah satu bentuk operasionalnya dalam pembelajaran.

Berpikir Disipliner (The Disciplined Mind)
“Tahun 2000,” cerita Gardner dalam sebuah seminar, “saya ditanya: ‘apakah temuan terbesar dalam dua ribu tahun terakhir?’ Waktu itu saya menjawab: musik klasik.” Gardner menjelaskan bahwa dia sengaja menjawab demikian agar media mengutipnya. Jika saja memberi jawaban biasa seperti roda atau energi nuklir orang-orang bisa jadi lansung setuju dan mungkin saja media mengutipnya karena kurang menarik. Tapi jika dia menjawab musik klasik maka orang-orang akan memberi perhatian lebih dan media akan lebih terdorong memuatnya.[4]
Jawaban lebih lengkap sebenarnya yang ingin ia sampaikan adalah disiplin-disiplin akademik yang selama ini sudah berkembang, yiatu musik klasik, sains, sejarah, ekonomi. Disiplin-disiplin tersebut sejauh ini disikapi begitu saja apa adanya (taken for granted), bahkan di dunia akademik, padahal semua itu telah menghabiskan ratusan tahun untuk merumuskan disiplin-disiplein seperti sains eksperimental, musik klasik, atau kalkulus.[5]
Dalam studinya yang ia klaim sangat ekstensif dan masif,[6] Gardner menemukan bahwa kebanyakan pelajar tidak memiliki cara berpikir terdisiplin. Sampel yang ia teliti dari berbagai jenis sekolah, baik yang sekolah biasa maupun yang dianggap maju; dari berbagai bangsa, baik Eropa, Amerika, maupun Asia. Hasilnya sama, sebagian besar memiliki cara berpikir tidak terdisiplin.[7]
Berpikir atau pikiran terdisipilin menurut Gardner adalah suatu cara berpikir mengenai apa saja yang dibentuk oleh suatu disiplin keilmuan tertentu. Seorang yang berpikir terdsiplin, misalnya, mengamati apa yang terjadi lalu menghasilkan klasifikasi, konsep atau teori (sementara), lalu melakukan eksperimen untuk menguji terori sementara itu. Langkah selanjutnya memperbaharui teori sementara itu dengan penemuan-penemuan dari eksperimen selanjutnya yang berulang-ulang. Kemudia dilakukan lagi pengamatan lebih jauh dengan menggunakan informasi baru dan bisa jadi membuat klasifikasi-klasifikasi baru dan, akhirnya, merancang eksperimen baru lagi. Seorang pemikir terdisiplin dapat membedakan dengan baik antara korelasi dan kausalitas.[8]
Gardner menunjukkan bahwa cara berpikir saintis berbededa dengan sejarawan, sastrawan, psikolog atau disiplin ilmu lainnya. Setiap disiplin memiliki cara berpikir tersendiri. Demikian juga dalam pendidikan, setiap profesi atau bidang memiliki cara belajar tersendiri. Memnijam istilah Lee Shulman, Gardner menjelasnkan bahwa setiap orang memerlukan signature pedagogies (pedagogi khas) dalam proses belajar.
Cara mendidik atau belajar hukum berbeda dengan, misalnya, cara mendidik atau belajar kedokteran atau desain.[9] Secara tegas Gardner menjelaskan bahwa pikiran atau cara berpikir terdisiplin harus sudah dimiliki oleh sesesorang setidaknya di akhir masa remaja atau saat menamatkan pendidikan menengah. Hal ini jika kita berharap mereka bisa menjadi akademisi yang ahli dan memiliki satu atau lebih keterampilan khusus jika ingin bekerja.[10]
Gardner menjelaskan cukup rinci cara yang perlu ditempuh jika ingin memiliki pikiran terdisiplin. Namun langkah awal adalah setiap siswa setidaknya diperkenalkan dengan beberapa disiplin utama, atau dalam bahasa Gardner, ‘daftar pendek disiplin yang menjadi gerbang memasuki berbagai disiplin,’ seperti sains, matematika, sejarah dan setidaknya satu bentuk seni.[11]
Satu disiplin sains memperkenalkan berbagai metode yang dipergunakan dalam berbgai bidang sains. Satu mata pelajaran sejarah membuka pintu bagi serangkaian ilmu-ilmu social. Satu jenis seni akan menghatarkan siswa kepada bentuk-bentuk seni lainnya. Menurut Gardner, tanpa memiliki disiplin siswa akan kebingunan dalam menghadapai persoalan ril yang dihadapi baik dalam bidang ekonomi, politk, seni dan lain-lain.[12] Bentuk-bentuk disiplin tersebut sangat dibutuhkan siswa terlepas apapun profesi yang mereka terkuni di kemudian hari. Orang yang tidak memiliki bentuk pemikiran yang beragam akan sulit menentukan pilihan atau ide mana yang dijadikan pedoman, sumber informasi atau pendapat yang dapat diandalkan. Akibatnya, tegas Gardner, orang demikian akan sangat mudah tertipu.[13]
Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk bisa memiliki keahlian berpikir secara terdisiplin adalah: Pertama, memahami topik-topik atau konsep utama yang terkait dengan suatu disiplin, meliputi isi (konten) atau metodologinya. Kedua, alokasikan waktu yang cukup untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh suatu topik. Ketiga, menggunakan berbagai pendekatan untuk memahami suatu topik. Misalnya, dengan cerita, logika, debat, dialog, humor, bermain peran, grafik, video atau film, ide-sikap-prilaku seorang tokoh, dan lain-lain. Dalam konteks ini cara berpikir terdisipilin bertemu dengan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligencess). Pelibatan berbagai jenis kecerdasan ini bisa bermakna dua hal: (a) memungkinkan lebih banyak siswa yang terjangkau (paham) dan, (b), dapat mendatangkan pemahaman yang benar.[14] Keempat, rancanglah suatu bentuk penerapan atas apa yang dipahami dan berikan siswa kesempatan seluas-luasnya untuk menujukkan pemahamannya dengan berbagai macam cara. “Selama kita menguji siswa hanya dengan pemahaman otak,” tandas Gardner, “kita tidak bisa memastikan apakah siswa sungguh-sungguh paham.”[15]  Ini sejalan dengan tahapan-tahapan atau hiratki pemahamn menurut taksonomi Bloom, setidaknya pada tiga tahap awal: mengetahui, memahami dan mengaplikasikan.[16]
Gardner sangat menekankan pentingnya kemampuan berpikir secara terdisiplin. Dengan agak keras ia menegaskan: “Orang yang tidak memiliki cara berpikir terdisiplin pada dasarnya tidak terpelajar dan tidak ada bedanya dengan orang barbar. Mereka terasing dan bodoh.”[17]

Berpikir Sintesis (The Synthesizing Mind)
“Kemampuan menjalin informasi yang sangat beragam dari resources yang beragam pula menjadi ke satu-kesatuan yang utuh sangat diperlukan dewasa ini,” jelas Garder.[18] Inilah yang dia dimaksud dengan cara berpikir mensitesis (synthesizing mind). Gardner memberi alasan, dalam dua atau tiga tahun terdapat berlipat ganda pengetahuan dari hasil penelitian namun ada masalah utama yaitu tidak mudah mengaitkannya. Karena yang diperlukan sesunguhnya, setelah berbagai temuan itu tersedia, adalah bagaimana mengaitkan temuan atau pengetahuan yang beragama itu menjadi satu kesatuan yang utuh. Murray Gell-Mann, seperti dikutip Gardner, menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan dalam abad 21 ini adalah kempuan berpikir yang bisa menyintesis dengan baik. Seorang pemimpin terlebih lagi memerlukan kemampuan menyintesis agar bisa mengamnbil kebijakan atau keputusan tepat yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.[19]
Berpikir sintesis tidaklah mudah. Terdapat “dinding-dinding tebal yang sagat kokoh menghalangi munculmua kemampuan sintesis,” tulis Gardner.[20] Jangankan berpikir mensintesis yang membutuhkan wawasan yang luas dalam berbagai disiplin yang berbeda, berpikir sistematis dalam satu disiplin saja tidaklah mudah, apalagi dari sudut pandang yang berbeda. Masalahnya menjadi lebih rumit karena proses belajar setiap orang cenderung domain-specific, dalam konteks tertentu saja dan menolak—atau setidaknya sulit menerima—generalisasi dan penerapan pada konteks yang lebih luas. “Hanya sedikit orang, bahkan sedikit sekali lembaga yang memiliki keahlian menanamkan keterampilan menyintesis.”[21] Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa belum ada standar cara melatih pikiran sintesis, cara mengukur ketercapaian dan sebagainya. Namun demikian, meskipun susah, berpikir sintesis dapat dilakukan. Hal ini karena setiap orang, terutama anak, memiliki kecendrungan mengaitkan satu hal dengan hali, meskipun seiring bertambah umur kencedrungan ini berkurang. “Kecuali barangkali,” menurut Gardner, “para penyair yang terlindung dari pengikirasan hasrat untuk melakukan metafora.”[22]
Ada banyak contoh sukses mensitesis yang bisa dijadikan acuan, dalam berbagai jenis. Misalnya: narasi, yaitu menggabungkan berbagai materi menjadi satu narasi yang terpadu seperi karya fiksi Tolstoy, War and Peace; taksonomi, seperti dalam system desimal Dewey yang dipergunakan dalam dunia perpustakaan; konsep kompleks, seperti teori seleksi alamnya Darwin; metafora, gambar dan tema yang kuat, seperti pada teori Frued tentang alam bawah sadar; aturan dan aforisme, seperti “berpikir dulu bertindak kemudian”; perwujudan tanpa kata, seperti karya lukisan Picasso; teori, seperti teori ekonomi pasarnya Adam Smith; dan metateori, atau teori dari berbagai teori, seperti tesis-antitesisnya Hegel.[23][24]
Berpikir sintesis setidaknya memiliki empat komponen: tujuan, pernyataan tentang apa yang ingin dicapai; titik awal, ini mencakup ide, gambar, atau bahkan karya apapun yang dijadikan landasan; pilihan strategi, metode atau pendekatan. Di sini disiplin pensintesis memegang peranan; dan draf awal atau feed back, dimana penyintesis pada akhirnya harus membuat draf awal atau bentuk awal dari karya (dalam berbagai bentuknya) yang akan diciptakan.[25]
Dunia pendidikan dapat membantu anak-anak untuk memiliki kemampuan mensintesis dengan memperkenalkan mereka dengan  orang atau tokoh yang sudah melakukan pikiran mensitesis. Mereka juga perlu dibiarkan dan bahkan didorong untuk bermain imajinasi dengan satu benda, batang pisang misalnya, dan menghubungan berbagai hal lain sehingga seolah membuatnya menjadi sesuatu yang lain.[26]

Berpikir Mencipta (The Creaive Mind)
“Aku kreatif maka aku ada.” Gardner mengawali penjelasannya tentang pikiran yang kretif dengan mengutip John Seely,[27] sebuah ungkapan yang nampaknya diilhami oleh kata-kata terkenal Rene Descartes, cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).[28]
Berpikir mencipta (creative mind) adalah pikiran yang mendatangkan suatu yang baru dan dapat diterima meskipun tidak mudah. Jika suatu ide atau produk terlalu mudah diterima maka ia biasanya tidak kreatif, tapi jika tidak diterima sama sekali maka itu membuktikan bawa ide atau produk itu salah.[29] Sejarah membutikan bahwa manusia pada kenyataannya cendrung bersikap konservatif dan tidak mudah menerima sebuah inovasi. Galileo Galilea harus dicerca dan dipenjarakan karena ide barunya. Giordano Bruno bahkan harus dibakar di tiang gantungan. Johann Sebastian Bach, Vincent van Gogh tidak banyak menerima penghargaan semasa hidupnya. Frued, Darwin dan Keyness juga demikian, bahkan lebih parah lagi. [30]
Pikiran kreatif tidak terjadi keculai seseorang setidaknya memiliki satu disiplin keahlian. Dan satu keahlian disipilin itu dapat diperolah setidaknya setelah 10 tahunan menggelutinya. Mozart misalnya pada umur lima belas atau enam belas sudah menghasilkan musik yang luar biasa, tapi hal itu terjadi karena ia telah mulai belajar musik sejak umur empat atau lima tahun.[31]
Menurut Csikszenmihalyi, seperti dikutip Gardner, kreatifitas hanya bisa terjadi jika produk individu atau kelompok yang dihasilkan dalam seuatu bidang diakui oleh para ahli dalam bidang terkait sebagai produk yang inovatif, dan, cepat atau lambat, akan memberi pengaruh yang besar dalam bidang terkait.[32]
Karakter kreatifias itu muncul justru pada anak-anak. Puncaknya bahkan pada umur lima tahunan.[33]  “Saya tadinya menggambar seperti Raphael, saya butuh waktu seumur hidup untuk belajar menggambar seperti anak-anak,” tulis Gardner mengutip kata-kata Piccasso.[34] “Saya merasa, saya mirip dengan anak yang sedang bermain di pantai dan kadang senang mencari batu-batu lebih licin atau kerang yg lebih indah dari biasanya, sementara di hadapan saya ada samudra kebenaran terbentang luas tak terselami,” tulis Gardner lagi mengutip Isaac Newton.[35]
Maka pendidik yang terlibat pada masa itu harus terus menghidupkan pikiran dan kepekaan anak-anak itu. Bagi Gardner sangat menyadari bahwa kelas-kelas harus mendukung kearah munculnya kreatifitas, bahkan terhadap perbuatan salah yang produktif pun harus didukung.[36]

Berpikir Merespek (The Respectful Mind)
Manusia memiliki kecendrungan yang berurat berakar untuk memciptakan kelompok-kelompok, menyediakan tanda-tanda khas untuk kelompok-kelompok itu dan memasang sikap yang dangan positif atau sangat bermusuhan kepada kelompok tetangga dan kelompok yang lebih jauh. Mengikuti antropolog Claude Levi-Strous, Gardner menegaskan bahwa pengkotak-kotakan hubungan sosial merupakan ciri umat manusia. Kehidupan sosial terdiri atas pertukaran tigal hal: kata, barang dan wanita.[37]
Perbedaan itu bisa melahirkan benci dan cinta, sperti peperangan antar suku atau pernikahan antar suku. Bila WH Auden mengatakan, “kita harus saling mengasihi atau mati,” untuk mengkritik sikap bermusuhan yang mengakar antar berbagai kelompok, suku, agama atau bangsa, maka Gardner melihat bahwa yang lebih realistisk adalah menunjukkan sikap saling menerima atau bahkan saling menghormati. “Saya lebih suka konsep respek,” tulis Gardner. “Alih-alih mengabaikan perbedaan, dibuat jengkel olehnya atau berupaya menumpasnya melalui cinta atau benci, saya menganjurkan orang untuk menerima perbedaan, belajar untuk hidup bersamanya, dan menghargai orang-orang dari kelompok lain.”[38]
Sikap merespek ini, menurut Gardner, sesungguhnya sikap bawaan. Bayi-bayi yang berada pada satu tempat perawatan, misalnya, akan memberi respon terhadap keadaan sesama mereka. Bila ada yang menangis atau tergangu, maka bayi lain aka ikut menangis. Fenomena ini secara psikologis sesungguhnya adalah wujud empati dan tenggang rasa. Mereka proaktif menghibur bayi lain yang terlihat sedih dengan memberi mainan atau mengajak main bersama. Meskipun tentu ada juga saat mereka saling rebut atau berkelahi.[39] Pada level yang lebih luas sikap merespek harus dicontohkan oleh orang-orang di sekeliling bayi atau anak-anak: orang tua, saudara dan masyarakat secara secara bersama-sama.
Dalam pendidikan, pengembangan individu yang merespek menjadi tanggungjawab besar disiplin sains sosial, sains humaniora, serta seni dan sastra. Anak-anak juga perlu didorong membaca buku-buku (di luar buku teks), menonton film, melakukan permainan dan simulasi di mana hubungan penuh respek antar orang atau kelompok didemonstrasikan.[40]
Gardner menunjukkan bahwa sikap respek memberi pengaruh positif, kalau tidak menentukan, dalam kemajuan suatu individu atau masyarakat. Dia memberi contoh kasus PARC, atau dikenal juga dengan Paulo Alto Research Center milik perusahaan Xerox. Sebagai research content, PARC melahirkan banyak gagasan inovatif. Namun, awalnya, Xerox sebagai perusahaan besar tempatnya bernaung, tidak memberi ruang atau pernghargaan yang memadai. Akibatnya hasil-hasil inovasi PARC tidak digunakan oleh Xerox, sampai akhirnya Apple Computer datang dan melihat nilai besar dari inovasi dan gagasan PARC. Apple yang kemudian melihat keunggulan dan nilai penting inovasi PARC, dan mengambilnya untuk diaplikasikan di Apple Computer. Hasilnya mengejutkan dan membuat Apple Computer menjadi perusahaan dengan pertumbuhan mencengangkan. Baru setelah menyadari ini Xerox mengubah sikap dan para petingginya melebur dan menunjukkan respek yang tinggi terhadap mereka yang berada di dalam PARC. Di belakang hari, setelah respek menjadi budayanya, Xerox menjadi perusahaan yang sangat sehat dan menguntungkan.[41]

Berpikit Etis (The Ethical Mind)
Dalam sebuah presentasinya, Howard Gardner menjelaskan, dalam berpikir etis kata-kata yang muncul bukan, “bagaiman Howard Gardner seharusnya bersikap terhadap yang lain,” tapi yang dikatakan adalah, “Saya seorang pekerja, dalam hal ini adalah guru, penulis, ilmuan dan saya juga seorang warga dari sebuah universitas, masyarakat umum, negara dan, bahkan, dunia—bagaimana saya harus bersikap?”[42]
Kedua pernyataan di atas menurut Gardner berbeda 180 derajat; yang pertama lebih berangkat dari ide tentang hak sementara yang kedua berangkat dari ide kewajiban. Bahkan, menurutnya, penting untuk mengetahui kewajiban tapi lebih penting lagi bagaimana seseorang melakukan sesuatu berdasarkan kewajiban tersebut. [43] Jadi, berpikir etis mewujud dalam panggilan bekerja dengan sepenuh hati, dengan cara-cara terbaik dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat. Pikiran ini mengkonsepsikan bagimana seorang pekerja bisa mengejar tujuan yang berada di luar kepentingan pribadinya dan bagaimana warga bisa bekerja tanpa mementingkan diri guna meningkatkan kesejahteraan bersama.[44]
Etika mengandung suatu sikap yang pada dasarnya lebih dari sekedar hubungan langsung yang diwujudkan melalui toleransi, respek dan contoh lain dari moralitas pribadi. Dalam istilah sains kognitif, etika melahirkan sikap abstrak—kemampuan untuk mencerminkan secara jelas cara-cara seseorang memenuhi, atau tidak memenuhi, peran tertentu.[45]

Lima Pikiran dan Taksonomi Bloom
Benjamin Bloom seperti dijelasan terdaulu membuat semacan rancang bangun syitem berpikir secara bertahap melalui yang paling sederhana sampai yang rumit. Gagasan Bloom[46]  yang kemudian dikenal dengan Taxonomi Bloom memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam di dunia pendidikan. Revisi atas Taksonomi Bloom yang dilakukan Anderson dan koleganya melahrikan beberapa perubahan dari konsep sebelumnya.[47] Revisi terjadi pada pada dua hal penting yaitu, pertama, perubahan dari kata benda ke kata kerja atau dalam bahasa Anderson, dari satu dimensi ke dua dimensi. Kedua, perubahan terjadi pada dua level tertinggi, dimana awalnya Sintesis (Synthesis) berada sebelum level Evaluasi (Evaluation) diubah menjadi sebaliknya dan kata Synthesis (sintesis) diganti dengan Create (mencipta).[48]
Gagasan Taksonomi dan berpikir cukup dekat dengan gagasan five minds, meskipun terdapat perbedan. Gardner sendiri menjelaskan bahwa perbedaanya dengan Bloom pada pendekatan. Jika Bloom cenderung hirarkis dimana satu level pemikiran atau keterampilan harus diselesaikan terlebih dahulu baru meningkat ke jenjang selanjutnya, sementara Gardner menyatakan pendekatannya lebih bersifat efigenetis dan mengiktui gurunya, Erik Erikson, dimana semua jenis atau cara berpikir itu perlu dibiasakan sejak awal pertumbuhan meskipun masing-masing akan lebih menojol pada masa-masa tertentu pertumbuhan.[49]
Melihat gagasan Five Minds Gardner dan Taxonomy Bloom bisa menjadi sintesis yang saling menguatkan. Five Minds bisa diperlakukan sebagai gagasan besar dan Taxnomy sebagai salah satu bentuk praktisnya dalam pendidikan.[]


Referensi
Anderson, L.W (ed). Krathwohl, D.R, (Ed.0. Airasian, P.W., Cruikshank, K.A., Mayer, R.E., Pintrich, P.R., Raths, J., & Wittrock, M.C. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Rveiew of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. (New York: Longman, 2001).
Bloom, B. Taxonomy of Educational Objectives, The Clasification of Educational Goals, Hanbook 1 Cognitive Domain (London: Longmans, Green and Co. Ltd, 1956).
Boree, C.G. Jean Pigeat (1896-1980), Personality Theories (Psychology Department Shippensburg University, 2006). Original E-Text-Site:
http://www.ship.edu/%7Ecgboeree/persontents.html.
Gardner, H. Five Minds for the Future, (Massachusetts: Harvard Business Review Press, 2007).
Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcript of an oral presentation at the Ecolint Meeting in Geneva (January 13, 2008), 4. Diakses 23 Mei 2016, 17:26.
Gardner, H. Frames of Mind: The theory of Multiple Intelligences (Basic Books, 1983).
Klein, P.D. Rethinking the multiplicity of cognitive resources and curricular representations: alternatives to ‘learning styles’ and ‘multiple intelligences’. Journal of Curriculum Studies, 35(1), (2003), 45–81.
Krathwohl, D.R. A Rivision of Bloom’s Taxsonomy: An Overview. Theory Into Practice, Volume 41, Number 4, Autum 2002 (Ohio: College of Education, The Ohio State University, 2002), 212-218.
Peer, K.S. Five Minds for the Future: Shaping the Future Through Education. Athlethic Training Education Journal, Volume 9, Issue 1, January-March 2014.
Russel, B. History Of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to
the Present Day (Londok: George Allyn and Unwin, 1946)
Smith, G. Thinking skills: the question of generality. Journal of Curriculum Studies, 34(6), (2002), 659–678, dan Sternberg, R.J. Culture and intelligence. American Psychologist, 59, (2004a), 325–338.
Starko, A.J. Creativity in the Classroom: Schools of curious delight, 4th Edition (New York: Routlege, 1995, 2010)





[1] Gardner, H. Frames of Mind: The theory of Multiple Intelligences (Basic Books, 1983).
[2] Gardner, H. Five Minds for the Future, (Massachusetts: Harvard Business Review Press, 2007).
[3] Terlepas dari gagasannya yang brilian, beberapa ahli meragukan karya-karya Gardner. Smith, misalnya, melihat Frames of Mind: The theory of Multiple Intelligences tidak didasarkan atas hasil penelitian lapangan. Five Minds for the Future sepertinya juga demikian. Bagi Smith, karya-karya Gardner lebih merupakan hasil intuisi dan olah pikir (reasoning) ketimbang hasil riset empirik yang komprehensif. Sampai saat ini bahkan, seperti kritik Sternberg, belum ada publikasi hasil test secara menyeluruh atas teori ini. Lihat Smith, G. Thinking skills: the question of generality. Journal of Curriculum Studies, 34(6), (2002), 659–678, dan Sternberg, R.J. Culture and intelligence. American Psychologist, 59, (2004a), 325–338.
[4] Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcript of an oral presentation at the Ecolint Meeting in Geneva (January 13, 2008), 4. Diakses 23 Mei 2016, 17:26.
[5] Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcript, 4.
[6] Klein melihat Gardner menghindari penggunaan pendekatan psikometrik dalam studinya dan karenanya membuat orang ragu gagasannya berdasarkan hasil riset langsung. Untuk mendukung gagasannya Gardner lebih memanfaatkan data-data biologis dan neurosains. Sampai sejauh ini tak satupun hasil kajian yang dibuat berdasarkan kerangka kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Lihat Klein, P.D. Rethinking the multiplicity of cognitive resources and curricular representations: alternatives to ‘learning styles’ and ‘multiple intelligences’. Journal of Curriculum Studies, 35(1), (2003), 45–81.
[7] Gardner, H. Five Minds for the Future, 24.
[8] Gardner, H. Five Minds for the Future, 30.
[9] Gardner, H. Five Minds for the Future, 31.
[10] Gardner, H. Five Minds for the Future, 33.
[11] Gardner, H. Five Minds for the Future, 34.
[12] Gardner, H. Five Minds for the Future, 34.
[13] Gardner, H. Five Minds for the Future, 34.
[14] Gardner, H. Five Minds for the Future, 34-35.
[15] Gardner, H. Five Minds for the Future, 36.
[16] Anderson, L.W (ed). Krathwohl, D.R, (Ed.0. Airasian, P.W., Cruikshank, K.A., Mayer, R.E., Pintrich, P.R., Raths, J., & Wittrock, M.C. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Rveiew of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. (New York: Longman, 2001).
[17] Gardner, H. Five Minds for the Future, 39.
[18] Gardner, H. Five Minds for the Future, 49.
[19] Gardner, H. Five Minds for the Future, 48.
[20] Gardner, H. Five Minds for the Future, 49.
[21] Gardner, H. Five Minds for the Future, 49.
[22] Gardner, H. Five Minds for the Future, 66.
[23] Gardner, H. Five Minds for the Future, 49-52.
[24] Russel menunjukkan bagaimana para filosof sangat tergantung pada kemampuannya mensintesa berbagai pemikiran atau gejalan-gejala lingkungan yang mereka amati untuk melahirkan gagasan-gagasannya baik yang berupa pengembangan dari sebelumnya atau bener-bener baru. Lihat Russel, B. History Of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to
the Present Day (London: Geprge Allyn and Unwin, 1946.
[25] Gardner, H. Five Minds for the Future, 52-54.
[26] Gardner, H. Five Minds for the Future, 69.
[27] Gardner, H. Five Minds for the Future, 79.
[28] Audi, R (Ed). The Cambridge Dictionary of Philosophy…, 225.
[29] Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcript, 10
[30] Gardner, H. Five Minds for the Future, 79-80.
[31] Gardner, H. Five Minds for the Future, 79.
[32] Gardner, H. Five Minds for the Future, 83.
[33] Gardner, H. Five Minds for the Future, 86.
[34] Gardner, H. Five Minds for the Future, 86. Pablo Picasso adalah seniman terkenal abad 20. Ia melukis dengan berbagai gaya dan didaulat sebagai salah satu peletak dasar aliran kubus dalam melukis. Meskipun diakui sebagai salah satu pelukis dunia paling berbakat, banyak karyanya sempat tidak mendapat penghargaan yang semestinya sampai dia meninggal. Lihat Starko, A.J. Creativity in the Classroom: Schools of curious delight, 4th Edition (New York: Routlege, 1995, 2010), 63.
[35] Gardner, H. Five Minds for the Future, 86. Newton seperti juga Piaget adalah sosok naturalis yang menyukai jalan-jalan sambil mengamati apa saja yang didapat dan itu mereka mulai sejak masih sangat muda bahkan masik tergolong anak-anak. Lihat, misalnya, Boree, C.G. Jean Pigeat (1896-1980), Personality Theories (Psychology Department Shippensburg University, 2006). Original E-Text-Site:
http://www.ship.edu/%7Ecgboeree/persontents.html.
[36] Gardner, H. Five Minds for the Future, 87.
[37] Gardner, H. Five Minds for the Future, 106.
[38] Gardner, H. Five Minds for the Future, 109. Gardner sendiri menunjukkan apresisasi yang layak terhadap gagasan-gagasan yang lahir dari pemikir atau budaya dunia di luar Eropa. Meskipun dalam Five Minds for the Future ini, misalnya, ia hampir tak pernah menyebut pemikir atau pikiran-pikiran abad pertengahan, yang memberi peran menentukan bagi kemajuan berpikir Eropa Modern, tapi dalam Frames of Mind ia mengutip berbagai model pikiran atau pemikir dari berbagai peradaban dunia termasuk abad pertengahan.
[39] Gardner, H. Five Minds for the Future, 109.
[40] Gardner, H. Five Minds for the Future, 117.
[41] Gardner, H. Five Minds for the Future, 119-120.
[42] Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcription, 14.
[43] Gardner, H. Five Minds for the Future. Transcription, 14
[44] Gardner, H. Five Minds for the Future, 4.
[45] Gardner, H. Five Minds for the Future, 132.
[46] Gagasan ini sesungguhnya bukan milik Benjamin Bloom seorang, tetapi merupakan hasil kerja sebuah komite yang melibatkan berbagai ahli dari berbagai universitas terkemuka di Amerika Setikat. Komite tersebut bekerja selama hampir lima tahun (1949-1953). Bloom didaulat sebagai ketua dari komite tersebut. Salah satu hasil mereka  yang kemudian menjadi buku rujukan yang sangat klasik yaitu Taxonomy of Educational Objectives, The Clasification of Educational Goals, Hanbook 1 Cognitive Domain (London: Longmans, Green and Co. Ltd, 1956).
[47] Anderson, L.W (ed). Krathwohl, D.R, (Ed.0. Airasian, P.W., Cruikshank, K.A., Mayer, R.E., Pintrich, P.R., Raths, J., & Wittrock, M.C. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Rveiew of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. (New York: Longman, 2001).
[48] Krathwohl, D.R. A Rivision of Bloom’s Taxsonomy: An Overview. Theory Into Practice, Volume 41, Number 4, Autum 2002 (Ohio: College of Education, The Ohio State University, 2002), 212-218.
[49] Gardner, H. Five Minds for the Future, 165.

Posting Komentar

0 Komentar