Gerbang Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) tampak lebih semarak pada medio Mei lalu. Bendera dua negara berkibar berdampingan, menyambut kedatangan rombongan siswa dari Hapcheon Pyeonghwa High School, Korea Selatan. Kehadiran mereka yang berlangsung selama empat hari, 20–23 Mei 2026, bukan sekadar kunjungan seremonial biasa, melainkan implementasi dari agenda tahunan sister school yang telah lama dirajut oleh kedua lembaga pendidikan lintas negara ini.
Kunjungan kali ini membawa misi yang mendalam yaitu belajar dan bertukar kebudayaan. Menariknya, di tengah perbedaan bahasa dan latar belakang kultural yang kontras, ada satu benang merah kuat yang menyatukan para remaja dari Negeri Ginseng ini dengan santri PAMSI, yakni kepedulian bersama terhadap isu-isu lingkungan hidup. Kedua sekolah sepakat bahwa menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab universal yang melampaui sekat-sekat kebangsaan.
Di sela-sela penyambutan dan ruang diskusi yang hangat, Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menyampaikan rasa bahagia serta apresiasi mendalam atas konsistensi hubungan baik ini. "Kami merasa sangat senang dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh rombongan dari Hapcheon Pyeonghwa yang telah berkenan berkunjung kembali ke pondok kami. Semoga jalinan silaturahmi antar-sekolah ini tetap terjaga dengan erat, melahirkan kolaborasi yang kuat, serta menjadi jembatan kebaikan bagi masa depan anak-anak kita," tutur beliau.
Meski para siswa Hapcheon tidak bermalam di dalam asrama PAMSI, sekat jarak itu seolah menguap begitu saja oleh kehangatan dan kebersamaan yang terbangun setiap harinya. Lapangan dan ruang-ruang terbuka hijau di pesantren berubah menjadi panggung diskusi yang hidup. Suasana riuh rendah oleh tawa dan obrolan santai, mematahkan asumsi kaku bahwa interaksi antarbudaya selalu berjalan formal.
Bagi Nune Dende, momen empat hari ini menjadi laboratorium linguistik yang sangat berharga. Tanpa rasa canggung, para santri memanfaatkan kesempatan langka ini untuk mengasah kemampuan berbahasa asing mereka. Percakapan mengalir dinamis; sebagian santri tampak percaya diri bertukar pikiran menggunakan bahasa Inggris, sementara beberapa santri lainnya mencoba mempraktikkan kosakata bahasa Korea yang selama ini hanya mereka pelajari secara mandiri. Di sisi lain, siswa Korea pun tampak antusias mencicipi keramahan lokal dan mempelajari beberapa patah kata bahasa Indonesia.
Kehadiran siswa Hapcheon Pyeonghwa di tengah lingkungan pesantren kembali meruntuhkan pandangan lama bahwa madrasah adalah tempat yang terisolasi dari pergaulan internasional. Melalui agenda sister school ini, PAMSI membuktikan bahwa santri-santrinya dididik untuk menjadi warga dunia yang mampu membuka diri, bertukar ide, dan berkolaborasi dengan komunitas global demi masa depan bumi yang lebih baik.
Saat hari terakhir kunjungan tiba pada 23 Mei, lambaian tangan dan pelukan hangat menjadi penutup perjumpaan yang singkat namun membekas itu. Para siswa dari Korea Selatan melangkah pulang dengan membawa memori tentang keteduhan Lombok, sementara Nune Dende kembali ke ruang kelas dengan cakrawala yang kian meluas menyadari bahwa di luar sana, mereka memiliki saudara sealiran dalam menjaga kelestarian alam.* *Humas & Media PAMSI





0 Komentar