Lapangan Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) masih basah oleh embun pagi ketika ratusan saf rapi mulai terbentuk. Gema takbir yang bersahut-sahutan sejak malam seolah mencapai puncaknya pagi itu. Nune Dende, bersama barisan ustadz dan ustadzah, duduk bersimpuh melangsungkan shalat Idul Adha berjamaah di bawah langit terbuka, dilingkupi lanskap perbukitan yang asri.
Namun, esensi hari raya kurban di pesantren ini baru benar-benar diuji sehari setelahnya. Kamis pagi, suasana lapangan berubah menjadi riuh oleh aktivitas gotong royong yang masif. Tahun ini, PAMSI mengelola amanah qurban yang cukup besar yakni 5 ekor sapi dan 15 ekor kambing. Hewan-hewan kurban ini merupakan wujud kepedulian yang dihimpun dari para wali santri serta patungan kurban per angkatan.
Di tengah aroma khas peternakan dan kesibukan jagal, dua figur sentral pesantren tampak membaur tanpa sekat. Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., dan Direktur Pendidikan, Bunda Dr. Immy Suci Rohyani, M.Si., turun langsung membersamai seluruh prosesi. Kehadiran mereka bukan sekadar memantau, melainkan ikut memastikan manajemen pembagian daging berjalan dengan adil dan presisi.
Di sela-sela kesibukan memantau jalannya pemotongan hewan kurban, Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed. menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus pesan edukatifnya. "Saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh wali santri yang telah mempercayakan dan ikut berqurban atas nama Nune Dende di pesantren ini. Ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembelajaran langsung bagi anak-anak kita agar mereka mengerti arti keikhlasan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab di tengah masyarakat," ungkap beliau.
Edukasi sejati itu pun langsung tercermin dari keterlibatan aktif para santri. Nune Dende tidak ditempatkan sebagai penonton. Dengan baju kaos yang siap kotor, para santri kelas menengah hingga atas ini berbagi tugas secara taktis. Ada kelompok yang dengan cekatan membantu menguliti kambing, ada yang bertugas membersihkan jeroan di area sanitasi, sementara yang lain sibuk memotong daging dan memotong tulang-tulang besar menggunakan pisau jagal.
Budaya disiplin dan ketelitian yang biasa diterapkan di kelas, kini berpindah ke meja packing daging. Santri dende dengan teliti menimbang dan mengemas daging ke dalam wadah-wadah siap edar agar higienis dan ramah lingkungan. Proses panjang ini menjadi pembuktian bahwa pendidikan di PAMSI berhasil meruntuhkan "menara gading" yang mengisolasi santri dari realitas kerja keras sosial.
Menjelang siang, fase krusial dimulai yaitu distribusi. Nune Dende memanggul ratusan paket kurban untuk diantarkan langsung ke rumah-rumah warga di Dasan Geria, wilayah pemukiman yang berbatasan langsung dengan area pondok. Distribusi juga menyasar masyarakat luas yang membutuhkan di sekitar lingkungan pesantren, memastikan tidak ada satupun warga kurang mampu yang terlewatkan.
Ketika matahari tepat berada di atas kepala, prosesi melelahkan itu pun usai. Lapangan kembali dibersihkan secara gotong royong. Idul Adha di Pesantren Alam Sayang Ibu tidak sekadar menyisakan cerita tentang tumpukan daging, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai keikhlasan Ibrahim dan kemandirian santri berhasil diintegrasikan dalam satu tarikan napas kerja sosial yang nyata bagi masyarakat sekitar.*







0 Komentar