Jalan Udayana Mataram yang biasanya riuh oleh deru nafas warga yang berolahraga, mendadak berubah menjadi panggung unjuk karya yang memikat, Ahad pagi, 7 Juni 2026. Di tengah hiruk-pikuk Car Free Day (CFD) tersebut, sekelompok santri berbaju rapi tampak sibuk menggelar lapak-lapak interaktif. Hari itu, Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) sengaja keluar dari batas tembok madrasah guna menggelar hajatan tahunan bertajuk Sayang Ibu Exhibition 2026: Dari Bumi Ke Aksi.
Hajatan ini bukan sekadar pameran biasa. Bagi Nune Dende, momen ini merupakan ruang pembuktian sekaligus panggung untuk memamerkan hasil karya, riset, dan projek pelajaran yang telah mereka "perjuangkan" selama dua semester penuh. Kawasan CFD Udayana dipilih sebagai lokasi yang paling tepat untuk melakukan strategi jemput bola memperlihatkan langsung hasil keringat akademis para santri kepada khalayak ramai yang memadati pusat kota.
Pameran ini dikonsep dengan sangat tematis dan mendalam. Pengunjung diajak menyusuri alur logika lingkungan melalui beberapa zona pameran karya, mulai dari Zona Keadaan Bumi, Zona Akibat Kerusakan Bumi, Zona Aksi, hingga Zona Solusi yang memuat langsung hasil Riset Santri. Tidak hanya menyuguhkan data dan fakta sains, stan pameran juga dilengkapi dengan Pojok Baca dan Relaksasi serta etalase yang memajang berbagai Karya dan Produk Santri.
Energi antusiasme para santri kian meluap saat berbagai rangkaian acara mulai bergulir sejak pukul 06.30 WITA hingga selesai. Suasana CFD yang biasanya monoton kini dipecah oleh keriuhan Pawai Kampanye Lingkungan, Senam Bersama, hingga Penampilan Ekstrakurikuler Santri. Pengunjung yang datang tidak hanya sekadar melihat-lihat, namun juga ikut terlibat aktif dalam Bazar Entrepreneur, Lelang Karya, menonton Band Performance, menikmati Penampilan Tari Santri, hingga bernyanyi bersama dalam sesi Karaoke Bareng. Di sela-sela kemeriahan itu, proses akademik tetap berjalan melalui Penilaian Karya Siswa serta dibukanya stan Sosialisasi PPDB Pamsi.
Kehadiran pameran sains dan sosial di ruang publik ini kembali menegaskan sebuah manifesto penting: bahwa madrasah tak lagi dipandang sebagai menara gading yang terisolasi dari realitas dunia luar. Dengan membawa hasil riset lingkungan ke tengah kerumunan CFD Udayana, PAMSI membuktikan bahwa santri-santrinya adalah warga dunia yang peka, kritis, dan solutif terhadap isu-isu global yang sedang melanda bumi saat ini.
Saat lapak-lapak pameran mulai dikemas kembali, para santri pulang tidak hanya membawa kelelahan fisik, tetapi juga membawa segudang rasa bangga. Di hadapan masyarakat Mataram, Nune dan Dende telah berhasil membuktikan bahwa ilmu yang mereka tuntut di pesantren tidak berhenti sebagai hafalan di atas kertas, melainkan telah menjelma menjadi sebuah aksi nyata yang siap membawa perubahan dari bumi untuk peradaban masa depan.*





0 Komentar