Ruang-ruang kelas di Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI) mendadak lengang pada penghujung April. Kursi-kursi kayu dan papan tulis ditinggalkan. Nune dan Dende tidak sedang menikmati libur panjang, melainkan sedang menyusup ke dalam pusaran dunia kerja yang sesungguhnya. Mereka tersebar di berbagai sudut Pulau Lombok, mulai dari riuhnya dapur bisnis kafe, deru mesin UMKM, keheningan area perkebunan, sanggar kerajinan, hingga ruang-ruang kelas institusi pendidikan.
Madrasah sengaja meruntuhkan sekat ruang kelas dengan menghadirkan program Connect to Learn (CTL). Ini adalah cetak biru pembelajaran kontekstual yang dirancang untuk memberikan pengalaman nyata sejak dini. Tujuannya tegas yakni untuk membantu siswa mengenali dunia karir, memahami potensi diri, serta mengeksplorasi minat dan bakat langsung dari lapangan, bukan sekadar dari lembar teori yang berdebu.
Gelombang pertama dimulai oleh santri kelas VIII MTs pada 20–25 April 2026. Selama sepekan penuh, para remaja belia ini diterjunkan untuk magang dengan misi pengenalan lingkungan kerja secara sederhana dan sesuai dengan usia mereka. Di sini, madrasah sama sekali tidak menuntut kesempurnaan performa kerja. Fase MTs adalah fase menguji keberanian: berlatih mengeksekusi arahan sederhana, menguji adab pada orang tua baru di tempat kerja, serta belajar berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan ekosistem yang asing.
Estafet pemagangan kemudian dilanjutkan oleh sang kakak, kelas X MA, yang berlangsung lebih lama, yakni selama dua pekan pada 27 April hingga 9 Mei 2026. Bagi tingkat aliyah, pemetaan lokasi magang tidak dilakukan secara acak. Merujuk pada evaluasi program tahun-tahun sebelumnya, penempatan Nune Dende disesuaikan dengan minat dan bakat unik mereka yang didasari oleh hasil analisis ilmiah, seperti Tes Strength Typology (ST-30). Langkah ini diambil agar potensi kekuatan setiap anak dapat diasah secara presisi sejak dini.
Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan bahwa duduk diam di dalam kelas tidak akan pernah cukup untuk membentuk manusia yang utuh. "Susah membayangkan target-target pendidikan itu akan tercapai kalau kita hanya duduk di kelas saja, anak-anak harus melihat langsung apa yang dipelajari untuk membuat mereka lebih kaya secara pengetahuan dan rasa," ujarnya. Melalui magang ini, santri diajak memperkaya rasa tanggung jawab dan disiplin profesional dalam kehidupan nyata.
Senada dengan itu, Direktur Pendidikan PAMSI, Bunda Dr. Immy Suci Rohyani, M.Si., memandang program ini sebagai bentuk pengakuan atas keunikan setiap santri. "Setiap anak memiliki keunikannya, setiap anak itu cerdas, jadi kecerdasannya berbeda, bidang minatnya berbeda, sehingga tujuan pesantren adalah mendampingi setiap anak untuk mencapai potensi terbaiknya," tutur Bunda Immy. Di bawah pengawasan ketat tim coach, guru BK, dan kesiswaan, program yang kini telah memasuki tahun-tahun matangnya tersebut didukung oleh jaringan kemitraan yang luas dengan puluhan perusahaan di seluruh Lombok.
Bagi santri tingkat MA, dua pekan di dunia profesional adalah kompas untuk menentukan arah masa depan. Mereka tidak hanya belajar mengamati ritme kerja, tetapi juga mulai memikirkan cita-cita dan rencana pendidikan lanjutan di bangku perkuliahan dengan lebih matang. Lebih dari sekadar urusan taktis pekerjaan, magang ini menjadi ruang aman bagi Nune Dende untuk belajar beradaptasi dengan budaya baru, memahami etika profesi, dan melatih kesiapan sosial sebelum mereka benar-benar dilepas menjadi warga dunia.

.jpeg)






0 Komentar