Menjemput Makna di Tanah Mataram Baru: Ikhtiar Mandiri Santri Sayang Ibu Menjelajah Yogyakarta

 Riuh rendah stasiun dan deru roda kereta yang membelah tanah Jawa tengah minggu ini menjadi saksi bisu sebuah perjalanan bermakna. Sebanyak 42 santri kelas IX MTs Sayang Ibu (PAMSI) menjejakkan kaki di Yogyakarta untuk melangsungkan agenda Field Trip akhir tahun. Jauh dari sekadar pelesiran melepas penat pasca-ujian, perjalanan melintasi samudra dan daratan ini merupakan wujud nyata dari perintah “siiruu fil ard” yang berarti melangkah di atas bumi Allah untuk membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya.




Namun, ada satu narasi kuat di balik keberangkatan rombongan ini yaitu kemandirian. Ongkos perjalanan 42 anak ini sama sekali tidak membebani dompet orang tua. Seluruh biaya field trip murni keluar dari celengan keringat mereka sendiri melalui kegiatan entrepreneur atau wirausaha mandiri yang telah dirintis dengan tekun sejak duduk di bangku kelas VII MTs. Selama tiga tahun, Nune Dende berkelahi dengan kalkulasi pasar, menjajakan produk kreatif di lingkungan pesantren, hingga akhirnya tabungan kolektif itu mampu mengantarkan mereka mengetuk gerbang kota budaya.

Pimpinan Pesantren Alam Sayang Ibu, Dr. H. Jamaluddin Abdullah, M.Ed., menegaskan bahwa perjalanan ini memiliki dimensi spiritual dan mental yang mendalam bagi usia remaja. "Perjalanan ini adalah implementasi nyata dari konsep siiruu fil ard, sebuah perintah untuk berjalan di muka bumi. Namun berjalan di sini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan ibadah yang menyadarkan kita akan kebesaran Allah. Melalui musafir ini, anak-anak belajar memikul tanggung jawab personal, mengasah kerjasama tim, dan yang terpenting, mengenal karakter teman sejawatnya jauh lebih dalam di luar zona nyaman asrama," ungkap beliau.

Di Yogyakarta, kurikulum kelas berpindah ke ruang-ruang publik. Angkatan ini mampir di berbagai destinasi wisata sejarah dan alam untuk belajar langsung tentang seluk-beluk tanah Yogyakarta langsung dari sumbernya. Mereka tidak membaca Jogja lewat lembaran buku teks yang kaku, melainkan merasakannya lewat interaksi dengan warga lokal, mengamati tata kota, dan meresapi denyut kebudayaan yang masih kokoh terjaga.




Esensi terdalam dari musafirnya Nune Dende kali ini adalah ujian karakter di sepanjang jalan. Sebuah perjalanan selalu memiliki cara jujur untuk menelanjangi sifat asli manusia. Di sinilah nilai-nilai tanggung jawab personal diuji, bagaimana mereka menjaga barang bawaan, mengelola waktu, hingga menjaga ibadah di tengah kelelahan. Kerja sama antar-anggota kelompok menjadi jangkar utama agar rombongan tetap bergerak selaras.

Lebih dari itu, field trip ini menjadi ruang bagi para santri untuk mengenal teman seangkatan jauh lebih dalam. Di dalam gerbong kereta yang melaju, di sela-sela langkah menyusuri Malioboro, atau saat berbagi ruang tidur di penginapan, ego-ego remaja itu melebur. Mereka belajar mendengarkan keluh kesah sahabat, memahami watak yang berbeda, dan menumbuhkan rasa empati yang barangkali selama ini luput saat berada di kenyamanan lingkungan madrasah sehari-hari.




Kehadiran puluhan santri PAMSI yang menjelajahi sudut-sudut Yogyakarta ini kembali menegaskan sebuah manifesto madrasah tak lagi dipandang sebagai menara gading yang terisolasi. Dengan berwirausaha secara mandiri demi bisa mendatangi sumber ilmu di luar daerah, Nune Dende membuktikan bahwa santri adalah individu yang tangkas, adaptif, dan siap membaca dunia dengan kacamata yang luas.

Ketika malam mulai menyelimuti sudut-sudut Yogyakarta, 42 anak ini kembali berkumpul, menuliskan lembar demi lembar refleksi perjalanan mereka. Mereka akan pulang ke Lombok tidak hanya membawa oleh-oleh fisik, tetapi membawa bekal mental yang jauh lebih mahal, sebuah pemahaman bahwa bumi ini begitu luas untuk dijelajahi, dan mereka telah berhasil menaklukannya dengan kemandirian dan kebersamaan yang utuh.


Posting Komentar

0 Komentar